Entri Populer

Kamis, 06 Januari 2011

Pelangi di Matamu

Kulangkahkan kaki ku ditengah hujan, kubiarkan derasnya air ini melunturkan sakitnya hati yang ku miliki.  Bahkan aku berharap petir menyambarku kali ini agar ia menjemputku untuk menemui Tuhan. Hidupku telah usai dipenuhi sejuta rasa bersalah dan kecewa.
Samar samar ku lihat sosok gadis kecil yang menunduk dibawah pohon dengan tubuh bergetar. Mungkin ia kedinginan. Aku mengacuhkannya, sepertinya hatiku lebih butuh pertolongan dari pada gadis itu.
***
Aku yang meninggalkan rumah karna hubunganku dengan Edo tak direstui kedua orang tuaku. Menurut mereka Edo seorang begajulan yang tak punya masa depan, namun cinta membutakanku, aku lebih memilih Edo dan meninggalkan kedua orang tuaku. Aku merasa sudah cukup dewasa untuk bisa menentukan hidupku, lagi pula aku sudah
bisa mencukupi hidupku sendiri. Angkuhnua sikapku kala itu.
***
Kini Edo yang aku cintai yang aku bela mati-matian menghianatiku. Aku merelakan janin dalan perutku, demi ketidak siapanya menghadapi pernikahan. Aku merelakan sebagian gajiku, karna ia belum diterima kerja. Segalanya aku relakan.
Awalnya aku membatalkan rencana makan malam dengan Edo karna  malam ini aku ada meeting. Tapi tiba tiba meeting dibatalkan karna direksi tak bisa hadir. Lalu kuputuskan untuk memberi Edo kejutan dengan datang tiba-tiba kekontrakannya dan mengajaknya makan malam. Namun yang kulihat saat aku membuka pintu adalah Edo bercinta dengan Didi. Lelaki yang ku kenal sebagai sahabatnya. Bagai ditampar petir  kala itu juga. Kubanting pintu dan meninggalkan mereka sekelebat kulihat mereka tergagap. Aku tak peduli aku terus berlari dengan air mata yang terus mengalir, sederas hujan yang mengguyur tubuhku.
***
Aku duduk di bangku taman ditemani dengan hujan yang masih deras mengguyur bumi. Tiba-tiba mata ku tertuju pada gadis kecil itu lagi. Kuusap air mataku, perlahan kuhampiri. Ternyata ia tidak kedinginan tapi menangis.
Akhirnya aku tahu, bahwa ia baru berusia 9 tahun ketika ayah kandungnya memperkosanya, dan di usia 11 tahun ia dijual oleh kedua orang tuanya ke seorang wanita yang ia panggil dengan ”mami”. Ia dipaksa harus melayani para lelaki
hidung belang. Lalu malam ini, ia mencoba berontak, ia menusuk lelaki yang akan menidurinya lalu melarikan diri. dan polisi kini pasti akan mencarinya.  Namun di tengah isak tangisnya aku merasakan kekuatan, kekuatan yang tidak aku miliki. Ketegarannya menghadapi hidup di usia yang masih dini.
Ia pun berkata bahwa kalaupun nanti polisi menemukannya ia akan pasrah. Baginya hidup dalam penjara jauh lebih baik dari pada dalam kubangan dosa.
Tiba-tiba air mataku meleleh lagi, aku merasa lemah dihadapan gadis ini, aku cengeng. Bagai mana mungkin aku memilih mati dan dijemput Tuhan hanya karena lelaki bejat meninggalkanku. Bukankah itu suatu keberuntungan?
Bagaimana mungkin aku memilih mati dan tidak kembali pada orang tuaku jika ternyata mereka menyayangiku. Bukankah mereka tidak pernah menjerumuskan ku?
Oh Tuhan aku malu pada diriku yang lemah, yang angkuh dan tak mau mengalah. Kini aku mengerti betapa hidup ini tak hanya butuh egoku, tapi juga cinta dari orang tua, Tuhan dan harapan untuk bisa kembali membangun hidup dengan puing-puing kesedihan untuk mencapai kebahagiaan.
Kugenggam erat jemari gadis kecil itu, kukatakan padanya bahwa akan ada pelangi seusai hujan, mari kita bangun pelangi dalam hidup kita usai hujan yang mengguyur kehidupan kita.
Aku mengajaknya kerumahku, kulihat ada bahagia di matanya, juga senyum manis di bibirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar