Tahukah kau Rio, betapa berat harus selalu tersenyum di hadapmu sementara air mata di sudut mataku tak terbendung lagi, saat ketegaranku mulai merapuh melawan penyakit ini. Betapa pahitnya harus merelakanmu.
***
”Rana, apakah belakangan ini kamu sering mimisan?” tanya dokter Feby kepadaku sore itu.Aku mengangguk.Ya akhir-akhir ini aku memang sering mimisan secara tiba-tiba.
”Apakah kamu sering merasa pusing dan pingsan secara tiba-tiba?” tanya dr. Feby kembali.
Lagi –lagi aku mengangguk, sudah sebulan belakangan ini aku sering pingsan tiba-tiba aku pikir aku hanya kelelahan saja, jadi kondisi fisik ku menurun. Puncaknya tiga hari yang lalu aku mendadak pingsan saat mengantarkan Rio ke toko
buku. Ku ingat betapa paniknya Rio saat itu, ketika ia melihatku pingsan. Ia memaksaku periksa ke Rumah sakit. Kuturuti Rio untuk memastikan bahwa aku memang baik-baik saja.
”Rana, dengan berat saya harus mengatakan hasil pemeriksaan ini. Dari semua tes yang telah kamu lakukan, saya menyimpulkan bahwa kamu mengidap kanker darah stadium dua … … …” dr. Feby memberitahukan hasil tes yang aku lakukan tiga hari yang lalu, aku seperti tersambar petir kala itu, tubuh ku tiba-tiba lemas dan aku tak mampu lagi mendengarkan apa yang dr. Feby katakan padaku. Antara percaya dan tidak, seperti ingin segera terbangun dan menyadari semua hanya mimpi. Namun ini adalah kenyataan, kenyataan yang menampar hidupku dengan kencangnya.
Entah apa yang terjadi lagi setelah itu, entah apa yang dr. Feby ucapkan lagi padaku aku tak lagi ingin mendengar semuanya. Aku seperti tuli secara tiba-tiba karna kenyataan yang sama sekali tak pernah ku bayangkan.
***
”Rana, kamu nampak pucat kamu sakit?” tanya Rio”Enggak ko sayang, aku hanya lelah saja memikirkan rencana pernikahan kita.” aku sedikit berbohong padanya.
Sebenarnya aku bukan pusing dengan rencana pernikahan yang akan kami lakukan, tapi aku pusing memikirkan bagaimana caranya membatalkan pernikahan ini tanpa dia harus tersakiti. Tanpa dia harus terlukai karena nya. Tanpa dia harus tahu sakit yang aku derita. Aku tahu Rio teramat mencintaiku, ia tak mungkin menerima begitu saja bila aku membatalkan pernikahan kami yang sudah siap sekitar 25%.
***
”Rana, sepertinya aku harus menunda rencana pernikahan kita, aku ditugaskan oleh kantor untuk mengerjakan proyek di Singapura dalam waktu 1 tahun. Kalau aku berhasik aku akan naik pangkat. Ini peluang baik untuk kita.” ucap Rio hari itu saat mengajakku makan malam.”Satu tahun” ucapku perlahan.
”Apa kamu keberatan sayang? Menunda pernikahan kita? Kalau kamu keberatan aku akan menolak proyek ini dan melangsungkan pernikahan kita sesuai rencana” jawab Rio sembari menggenggam erat jemariku.
”Aku gak keberatan kok sayang, aku senang kalau akhirnya kamu bisa meraih mimpi yang selama ini kamu perjuangkan. Aku tidak akan menghalangimu. Aku akan menunggu mu.” ucapku. Entah aku harus senang atau bersedih kala mengucap itu, senang karna aku tak perlu mencari alasan untuk membatalkan pernikahan ini, atau sedih karna menyadari bahwa satu tahun lagi mungkin kau tak akan pernah menemukan aku lagi.
Sekilas ku lihat air mata di sudut mata Rio, ketika aku mencoba melihatnya dengan jelas, Rio buru-buru menghapusnya dan memberikan senyum termanis yang biasanya ia berikan untukku.
***
“Rin, tolong jagain Rana aku mau pergi ke Singapura beberapa waktu” aku meminta tolong Rino sahabatku untuk menjaga Rana.“Ke Singapura? Untuk apa?” jawab Rino.
“Mungkin aku tak bisa bohong padamu. Beberapa hari yang lalu aku mendapati hasil medical chek-up Rana, ia terkena kanker darah, aku tahu ia tak punya biaya untuk pengobatannya,” kuhela nafasku perlahan.
“Beberapa hari yang lalu aku mendapat tawaran untuk menjual kedua mataku, ada pembeli di Singapura yang bersedia membelinya 150jt aku rasa itu cukup untuk Pengobatan Rana. Aku mengatakan padanya aku ada proyek kerja satu tahun. Aku hanya berharap waktu itu bisa membuatnya melupakan aku,” kurasakan air mataku menetes.
“Kamu gila Rio!! Kamu ga boleh melakukan ini” Rino berusaha mencegah ku.
“Maaf, tapi aku akan melakukan apapun untuk Rana. Tolong jaga dia, aku tahu kamu mencintainya sama seperti aku.”
***
Andai saat itu aku tak mengijin kan mu pergi, pasti aku masih bisa melihat senyummu untuk ku. Masih ku dengar suaramu memanggilku. Masih kurasakan hangatnya tubuhmu memeluk ku. Semua karna ku” ku ciumi jasad Rio yang hangus terpanggang api dari ledakan pesawat yang di naikinya saat akan pergi ke Singapura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar