"Ran, mau kah kau menikah denganku?" ucap Zeta malam itu sambil menggenggam erat tanganku.
Aku terdiam merasakan detak jantungku yang tak beraturan merasakan deguban deguban yang meletup di dada.
Aku terdiam merasakan detak jantungku yang tak beraturan merasakan deguban deguban yang meletup di dada.
Baru saja aku ingin menjawab lamaran Zeta, dia telah mengatupkan dua jarinya di bibirku.Aku terdiam.
"Rana, sebelum kau menjawab pertanyaanku aku ingin kau mengetahui semua ini." terlihat kesedihan di mata Zeta kala mengucap itu. Kesedihan yang tak pernah ku lihat sebelum ini.
"Pernikahan adalah sunah Rosul, dan sebelum aku kembali pada dekapan Tuhan aku ingin menjalankan sunah-Nya. Agar ketika aku kembali pada-Nya aku telah lengkap sebagai seorang laki-laki" ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Dua minggu lagi aku akan pergi, menjalankan amanah sebagai umat muslim, membela agamaku melindungi umat muslim" matanya berapi-api ketika mengucap semua itu, tampak semangat yang begitu tinggi. Ya semangat yang menghilangkan raut kesedihan itu dari wajahnya.
"Dua minggu lagi aku akan pergi, menjalankan amanah sebagai umat muslim, membela agamaku melindungi umat muslim" matanya berapi-api ketika mengucap semua itu, tampak semangat yang begitu tinggi. Ya semangat yang menghilangkan raut kesedihan itu dari wajahnya.
Aku diam, mendengarkannya berbicara. Sementara itu, pikiranku terus melayang mencoba menerka jalan pikirannya tapi otak ku seperti buntu tak bisa menangkap apa yang akan ia lakukan. Menikah, sunah, pergi. Entahlah aku tak tahu maksudnya.
"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, jauh sebelum aku memiliki keinginan untuk melakukan niat ku ini. Ku harap kau bisa memberi ku jawaban. Pikirkan semua baik baik dan abaikan perasaanku" Zeta mengucap itu dengan tenang, setenang raut mukanya saat aku memandangnya.
"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, jauh sebelum aku memiliki keinginan untuk melakukan niat ku ini. Ku harap kau bisa memberi ku jawaban. Pikirkan semua baik baik dan abaikan perasaanku" Zeta mengucap itu dengan tenang, setenang raut mukanya saat aku memandangnya.
Mungkin, hatinya tidak berdebar-debar seperti ku.
Aku diam mencoba mencerna apa yg ia katakan. Mencoba memahami jawaban hatiku atas tawarannya. Dan sepertinya Zeta memahami keraguanku, kebingunganku atas apa yang ia katakan.
”Rana aku ingin menikahimu karna aku mencintaimu, namun bagiku cinta didunia bukanlah cinta yang kekal. Rana, aku ingin menikahimu namun, beberapa hari usai pernikahan kita aku akan meninggalkan mu, aku akan menjalankan misi kemanusiaan membela kaum muslim. Aku tidak yakin bisa kembali lagi atau tidak setelah misi ini. Namun, jika aku memang tidak akan pernah kembali lagi aku ikhlas. Kelak aku akan menantimu di pintu surga.” ucap Zeta mencoba menjawab keresahanku.
Aku mengerti, aku mengerti apa yang akan ia lakukan usai menikahiku. Hatiku bertanya apakah aku bener-benar bisa kehilangan dia padahal kami baru menikah? Atau ku tolak saja lamaran ini? tapi aku mencintainya. Zeta adalah lelaki yang meluruh kan hatiku, sikapnya, agamanya dan keteguhan hatinya untuk melakukan kebenaran. Akankah ada lelaki yang seperti Zeta yang akan melamarku lagi jika aku menolak lamaran Zeta?
Beberapa keraguan berkecamuk di pikiranku.
***
Setelah mencoba berbicara dan meminta pertimbangan kedua orang tuaku, mereka mengijinkan aku menerima lamaran itu. Orang tuaku mengatakan bahwa Zeta akan melakukan tugas yang mulia, aku harus mendukungnya. Suami seperti itulah yang kelak membawa istrinya ke surga. Begitu nasehat kedua orang tuaku.
”Zeta, aku mau menikah denganmu. Apapun yang akan terjadi setelah kita menikah aku yakin ini sudah jalan Tuhan untuk kita.” ucapku pada Zeta. Kulihat pancaran kebahagiaan dimatanya kala aku menerima lamarannya dan mengatakan siap untuk menjadi istrinya.
Lusa aku menikah, tapi entah mengapa aku tidak bahagia dengan semua ini. Bayang kesedihan selalu menghantuiku. Aku ingin menghentikan waktu saat ini juga tak ingin semua berjalan aku menikah dan dia meninggalkanku. Ah,, sudahlah semua tak mungkin berubah. Waktu terus berjalan dan akan melakuakan eksekusinya sesaat lagi.
**
Pernikahan yang amat sederhana, dihadiri oleh penghulu, keluargaku dan keluarga Zeta serta beberapa sahabat kami. Semua berlanngsung dengan lancar dan akhirnya kudengar kata ”syah” dari ruangan ini. ah,, lega akhirnya aku resmi menjadi isrti Zeta.
Malam pertama, kulihat Zeta hanya duduk termenung di dekat jendela. Pandangan matanya tampak kosong. Ia sama sekali tidak menyentuhku, bahkan mendekatiku pun tidak.
**
Maaf kan aku Rana, bukan berarti aku tidak mencintaimu jika saat ini aku tidak melakukan tugasku sebagai seorang laki-laki di malam pernikahan kita. Aku mencintaimu, engkau adalah wanita kedua yang paling aku cintai setelah ibu ku.
Maaf kan aku Rana, bukan berarti aku tak mencintaimu jika aku mengikhaskanmu sebagai janda usai pernikahan kita.
Kerena kau mencintaimu, aku ingin kelak engkau tetap menjadi gadis yang cantik yang akan menemukan lagi suami yang baik bagimu dan menjaga mu di sepanjang usiamu.
Karena aku mencintaimu aku memilihmu untuk ku nikahi. Menjadi istri yang syah dimata Tuhan ku.
**
”Mas sebenarnya kamu mau pergi kemana? Aku mengijinkan dan mengikhlaskan semua yang akan kau lakukan, namun apakah tak berniat kau memberi tahuku kemana kau akan pergi?”
Tanyaku pagi itu sebelum kepergian Zeta meninggalkanku.
”Rana, istriku, bukan berati aku tak berkata jujur padamu. Aku hanya ingin kamu tak menghawatirkanku jika nanti kau mendengar tentang tempat yang aku tuju. Aku tak ingin kau mencemaskanku melihat keadaan dimana aku akan menuju, anggaplah aku akan pergi ketempat yang benar, percayalah bahwa Tuhan akan menuntunku menuju tempat yang baik.” Zeta mencoba menjelaskan mengapa ia tak mengatakan padaku tujuan kepergiannya.
”Mas, aku akan selalu mendoakanmu, akan selalu meminta pada Tuhan untuk melindungimu. Semoga kita dipertemukan kembali.” air mataku menetes. Ternyata begitu berat melepas seseorang yang dicintai. Meskipun untuk melakukan suatu hal yang benar.
**
Tiga bulan tak ada kabar apapun dari suamiku. Tapi aku percaya dia masih hidup dan melakukan segalanya dengan baik.
Tapi entah mengapa hari ini aku diliputi kecemasan ketika melihat berita di TV tentang perang Pelestina vs Israel. Apakah mungkin suamiku ke Gaza? Misi kemanusiaan. Mungkinkah?
Hatiku kian diliputi ketegangan dan kecemasan yang luar biasa ketika seluruh berita menayangkan keadaan Palestana yang kian mengkhawatirkan. Mungkinkah? Tuhan aku berharap engkau melindungi suamiku dari segala bahaya yang mengancamnya.
Beberapa bulan berlalu, masih saja kekejaman Israel atas Palestina menjadi berita. Semakin banyak relawan yang terjun ke Gaza melakukan misi kemanusiaan. Hatiku pun tergerak untuk kesana, menyusul suamiku dan ikut berjuang bersamanya. Kuputuskan esok aku akan mendaftar sebagai relawan ke Gaza. Tekad ku sudah bulat.
***
Pagi buta, pintu rumahku diketuk. Saat ku buka tampak beberapa polisi didepan pintu. Belum sempat ku persilahkan masuk, mereka telah mengatakan bahwa suamiku AHMAD NUR ZETA merupakan salah satu tersangka pelaku pengeboman di Kuningan.
Gelap. Dan aku tak bisa merasakan apa-apa lagi.