Entri Populer

Senin, 06 Desember 2010

cinta sejati

Pagi tadi Ibu menelpon ku bahwa kondisi Mbak Nina memburuk. Mbak Nina mengalami kecelakaan, ia terkena peluru nyasar saat pulang dari kantor kemarin sore, ada bentrok massa dengan polisi. Aku langsung berkemas dan meluncur pulang, karena memang kebetulan aku baru selesai ujian semester, jadi aku bisa di Semarang lama. Menjenguk Mbak Nina dan sekaligus berlibur menghantarkan pelukan pada ibu, rinduku padanya sudah memuncak.
***
Nduk kenalke, iki nak Aryo pacare Mbak’mu,”  Ucap Ibu mengenalkan aku pada seorang lelaki yang sedang duduk di kursi di samping pintu ICU tempat dimana Mbak ku dirawat.
“Dini,” ucapku sambil menjabat tangannya.
”Aryo,” balasnya perlahan, aku merasa ada getar kesedihan disuaranya.
”Mbak Nina Pripun keadaane Buk’e?” tanyaku pada ibuku, dan mengalihkan pandanganku dari Mas Aryo, entah kenapa tiba tiba ada getar aneh dalam hatiku ketika tanganku menyentuh tangannya tadi.
”Yo, ngono kuwi Nduk, durung ono perubahan,” jawab ibu dengan mata berkaca-kaca.
Aku melihat kesedihan yang teramat di wajah ibuku. Kembali kulirik wajah Mas Aryo, Tubuhnya tinngi, kulit putih hidung mancung wajahnya mirip Vino .G Bastian. Ia masih tertunduk lesu tanpa Ekspresi. Aku sering mendengar namanya dari Mbak Nina ketika menelponku, Mas Aryo adalah kekasih Mbak Nina sejak dua tahun lalu, mereka adalah rekan kerja di kantor. Dan bulan depan mereka berencana mengadakan pertunangan. Bisa kuingat bagaimana bahagianya Mbak Nina ketika Mas Aryo melamarnya. Ia bilang bahwa ia adalah dewi yang paling beruntung karna di pinang oleh lelaki seperti Mas Aryo, lelaki yang penyayang, sabar, romantis, berasal dari keluarga baik-baik dan tergolong orang yang kaya. Mas Aryo adalah anak dari Bupati Semarang. Bahkan aku sempat iri dengan keberuntungan yang diperoleh Mbak Nina itu, walaupun pada saat itu aku belum mengenal Mas Aryo, aku yakin Mas Aryo adalah pilihan tepat buat Mbakku, dia sosok lelaki yang sempurna. Sementara aku sudah satu tahun ini menjomblo sejak putus dari kekasihku Firman. Dan aku belum berniat mencari pengganti lagi, kesibukan kuliah membuatku bisa sedikit lupa akan kesendirianku.
***
Semenjak perkenalan itu, aku dan Mas Aryo kian akrab, kami sering menunggui Mbak Nina bersama-sama, sudah beberapa kali kulihat Mas Aryo mulai bisa tersenyum meskipun Mbak Nina belum sadar dari komanya. Senyum itu, keramahan itu, tatapannya. Tak bisa kupungkiri aku telah jatuh cinta padanya. Cinta yang tak seharusnya tumbuh. Cinta yang mekar di taman terlarang. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai kekasih dari kakak ku sendiri sementara kakak ku masih terbaring koma di Rumah Sakit. Aku berusaha menepiskan bayangan Mas Aryo dari banakku, berusaha menjejalkan kenyataan bahwa Mas Aryo itu milik Mbak Nina, aku tak boleh merebutnya. Mbak Nina akan segera sembuh, dan mereka akan bertunangan, aku gak moleh menyusup di antara mereka. Cinta Mas Aryo begitu dalam, tak mungkin berpaling padaku dalam waktu sesingkat ini. Perhatiannya padaku tak lebih dari karna aku adalah adik dari Mbak Nina.
***
Keadaan Mbak Nina membaik, meskipun belum sadar, tapi ia sudah mulai menggerakkan jemarinya. Kemarin saat aku membuka pintu kamar Mbak Nina kulihat Mas Aryo bercakap disamping tempat tidur Mbak Nina tentang pesanan cincin pertunangan yang mereka pesan, tentang betapa ia berharap Mbak Nina segera sadar dan bisa memeluknya kembali, tentang bagaimana dunianya terasa sepi tanpa tawa dari Mbak Nina, ah… tiba tiba air mataku menetes menyaksikan semua itu, cemburu atau rasa kesedihan karna melihat Mbak Nina? Ya keduanya  menyebabkan air mataku menetes, namun bisa kusadari perasaan cemburu itu jauh lebih dalam menusuk hatiku.
Mas Aryo mengajakku ke toko perhiasan mengambil  pesanan cincin mereka, seminggu lagi seharusnya pertunangan itu sadah berlangsung. Kulihat dua buah cincin manis dengan ukiran huruf  ”A” dan huruf ”N”  batapa indahnya. Tiba-tiba tanyan Mas Aryo menyentuh pipiku, ia menghapus air mata jang jatuh disana,
”Kenopo Din,” tanya mas Aryo?
”Sedih Mas, Mbak Nina durung sadar nganti saiki,” kilahku, padahal sungguh dalam hatiku aku cemburu, aku tak kuasa melihat cincin itu untuk Mbak Nina, bukan untukku. Mas Aryo memelukku, mengusap rambutku dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja, Mbak Nina pasti sembuh dan pertunangan itu, akan terjadi.
Tuhan mengapa kau anugerahkan
Cinta yang tak mungkin tuk bersama
Kau yang telah lama kucintai
Ada yang memiliki
Samar kudengar  lagu Ari Lasso di toko sebelah, airmataku menetes kian deras.
***
Terlihat dua orang, lelaki dan perempuan, menyekar makam,
”Besok kami akan menikah, kamu pasti bahagia melihatnya, sayang kamu tak bisa hadir, tapi kuharap kamu mendoakan agar pernikahan kami akan kekal dan bahagia selamanya, seperti mimpi kita dulu waktu masih kanak-kanak, kita akan melahirkan 2 anak yang semuanya laki-laki, baiklah, aku sekarang merubah semua itu, aku akan melahirkan 4 anak yang semuanya laki-laki, dua anakku dan dua lagi kuanggap sebagai anakmu. Kamu senang?”  kata wanita itu, sementara yang laki-laki menghapus air mata yang menetes dipipi yang wanita.
Mereka lalu meninggalkan makam itu, semua kembali sepi, bunga-bunga yang baru ditebar tertiup angin, menutupi nama yang tertulis di nisan.
DINI ARDINARI
LAHIR 20 SEPTEMBER 1987
MENINGGAL 23 JULI  2010
***
Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa ada kecocokan 70% ginjal ku dengan Mbak Nina, aku putuskan untuk menyumbangkan salah satu ginjalku untuknya. Selain aku tak ingin Mbak Nina meninggal dunia, karna aku sangat menyayangi Mbakku itu, juga karena aku tak mau melihat harapan dimata Mas Aryo padam. Biarpun seusainya
aku harus melihat pedih pertunangan mereka lalu pernikahan mereka. Biarlah nanti aku menutup mata saja, pura-pura tak pernah ada cinta. Kedua ginjal Mbak Nina rusak tertembus peluru itu. Seminngu setelah operasi keadaan mbak Nina membaik, dan aku mengalami anfal karna operasi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar