Saat aku membuka mata, kulihat ruangan yang teramat kumuh, kotor, dan — ya Tuhan! Di pojokan ada tikus sedang mengais makanan sisa. Mendadak aku menjerit sekencang-kencangnya, dan segera berlari. Aku berlari ke kanan, ke kiri…. Aku asing dengan tempat ini. Di mana pintu keluarnya? Aku sudah tak tahan di sini. Badanku terasa gatal-gatal, bau busuk kian tajam tercium, dan debu-debu beterbangan memaksaku untuk bersin berulang kali. Suara tikus-tikus itu membuat bulu kudukku berdiri.
Kuamati ruangan yang berukuran kurang lebih 3×4 meter tersebut. Ada almari kecil yang sudah usang di pojok kiri dan satu kursi reot di sampingnya. Sampah-sampah berserakan di mana-mana. Otakku tak bisa menerka kira-kira ini ruangan apa dan mengapa aku tiba-tiba ada di sini. Juga pakaian ini, mengapa tiba-tiba aku memakainya? Ke mana baju tidurku yang semalam kupakai? Sungguh, semua ini tak bisa masuk dalam akal sehatku. Kucubit tanganku, terasa sakit. Berarti aku tidak sedang bermimpi.
Aku berjalan perlahan menuju almari usang itu. Kuamati, apakah aku bisa menemukan sesuatu di sana. Kugeser kursi dan tiba-tiba almari pun ikut bergeser. Ternyata ini pintunya, batinku. Kulihat tangga rapuh yang berada di luar pintu tersebut, dan aku pun menuruninya perlahan-lahan.
Sampai di ruang bawah, tak ada yang istimewa. Rumah kuno dengan perabotan yang seadanya, namun tampak lebih bersih dari ruang tempatku tidur tadi. Aku memanggil-manggil, berharap ada seseorang yang akan menjelaskan padaku di manakah aku sekarang. Sia–sia. Tak ada seorangpun yang menyahutiku, rumah ini sepi. Sepertinya sang pemilik sedang pergi. Samar-samar kudengar derap kaki kuda dari luar rumah. Aku keluar, melihat banyak gadis cantik dengan dandanan yang kuno menaiki kereta kuda menuju ke arah selatan. Kulihat matahari sudah hampir terbenam. Aku baru menyadari bahwa ini sore hari. kupikir tadi pagi hari, karena aku baru saja bangun dari tidur. Kuhentikan langkah seorang gadis berkereta kuda yang kutemui selanjutnya. Aku bertanya mengapa semua gadis menuju ke sana. Pengawal dari gadis itu menjawab istana sedang mengadakan pesta, Pangeran mencari calon istri. Aku seperti teringat sesuatu, seperti kisah Cinderella. Pasti ibu tiri dan kedua saudara tiriku sedang ke pesta itu.
Tiba-tiba aku diliputi perasaan senang, kalau benar aku berada di dunia Cinderella, maka aku adalah Cinderella yang beruntung itu, yang sebentar lagi akan didatangi ibu peri untuk diubah menjadi putri yang cantik jelita… Berarti aku bisa meminta… Syalala lalala.. syalala lalala… Aku beryanyi-nyanyi menunggu Ibu Peri. Satu jam berlalu, matahari sudah tak tampak, Ibu Peri tak juga menampakkan dirinya. Ibu Peri, di mana kamu? Ayo, cepatlah datang! Aku menantikanmu…
”Cinderella, kau menungguku?”
Tiba- tiba sesosok wanita cantik bersayap menghampiriku. Aku mengusap-usap mataku, tak percaya dengan apa yang kulihat. Benarkah ini Ibu Peri yang akan menjadikanku putri? Entahlah. Tapi setidaknya kini aku memiliki harapan.
”Kenapa diam?” tanya Ibu Peri itu.
“E…. Apakah Anda Ibu Peri dalam dongeng Cinderella?” tanyaku dengan sedikit gugup. Aku masih tak percaya dengan apa yang kualami saat ini.
“Hei, Cinderella sayang, ini bukan dunia dongeng. Apakah engkau mau ikut pesta pangeran?” jawab Ibu Peri
”Ibu Peri, apakah engkau akan mengubahku menjadi putri?”
”Ya, putri cantik. Itu yang engkau mau bukan?”
”Ibu bisa memberikan apapun yang aku minta?” tanyaku lagi.
”Aku peri, tentu aku bisa melakukannya. Engkau ragu sayang?” balasnya meyakinkan aku.
”Ibu, aku tak mau jadi putri cantik. Aku tak peduli dengan pesta pengeran itu, dan aku juga tak peduli siapa kelak yang akan dipinang oleh pangeran, Ibu…,” aku berhenti bicara. Kurasakan tiba-tiba air mataku menetes membasahi pipiku.
”Kenapa Cinderella?” tanya Ibu Peri sembari mengusap air mataku.
”Ibu, aku ingin Ibu mengembalikanku ke duniaku. Aku bukan Cinderella. Aku tak mau terus di sini. Ibu Peri, kumohon kembalikan aku ke Jakarta, kota tempat tinggalku di tahun 2010. Tahun di mana aku hidup sebelum secara tiba-tiba berada di negeri dongeng ini. Kumohon…,” pintaku mengiba dengan genangan air mata di sudut mataku.
”Cinderella! Kau jangan berkhayal!” teriaknya. Suaranya terdengar marah. Ibu Peri sepertinya tak percaya penjelasanku.
Aku diam saja tak berani menatapnya. Aku takut ia semakin murka dan mengubahku jadi tikus.
”Aku datang untuk mengubahmu menjadi putri. Kalau kau tak mau, tak apa. Tapi jangan meminta sesuatu yang aneh dan jangan mengarang cerita bohong. Aku tak suka!” lanjut Ibu Peri. “Baiklah, kutanya sekali lagi. Apakah kau mau pergi
ke pesta pangeran itu?” tanya Ibu Peri.
”Tentu Ibu Peri, tentu aku ingin ke sana jika aku memang Cinderella. Tapi aku bukan dia. Aku tersesat di sini,” air mataku kian deras. Aku takut jika aku tak bisa kembali lagi ke duniaku. Bagaimana jika aku memang harus menjadi Cinderella?
”Baiklah, Cinderella. Kurasa tak ada yang bisa kulakukan di sini. Kau tak butuh bantuanku bukan?” Ibu Peri terlihat semakin geram saja terhadapku.
”Maaf Ibu, aku tak sedikitpun berbohong. Aku benar-benar bukan Cinderella! Percayalah padaku!” sekali lagi aku memohon, berharap Ibu Peri mengabulkan pintaku.
” Cinderella, aku tak mengerti maksudmu. Sudah sebaiknya aku pergi.”
” Jangan…”
Ibu Peri sudah tak tampak lagi. Aku menangis tersedu meratapi diriku.
***
Plook…plok…plok… Kudengar tepuk tangan yang sangat meriah. Sorot lampu pun penuh menyinari wajahku. Aku tersenyum lega. Akhirnya pagelaran ini berakhir dengan sempurna, seperti yang kuharapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar