Aku berjalan tertatih menyusuri jalan menuju rumahku. Sebuah gang kecil yang kumuh. Dari kejauhan aku melihat seorang gadis kecil berusia tiga tahunan duduk di samping tong sampah. Semakin dekat, kulihat ada kilatan cahaya dimatanya, wajahnya ayu, bersih. Tapi kenapa ia disini hatiku bertanya tanya.
"Ma.." ucap sigadis ayu tersebut ketika aku melewatinya.
Aku tekesima mendengarnya memanggil ku mama.
Aku membalikkan badan, ku hampiri anak tersebut. "Kamu siapa?kenapa disini malam malam?" ucap ku perlahan.
...
Dia diam tak menjawab, matanya menatap mataku.
"baiklah ayo ikut aku" aku menggendong gadis itu menuju kerumah.
**
Disofa usang kududukkan ia, kuperhatikan sepasang sayap mainan yang ia kenakan..
"Dimana rumahmu nak" ku sodorkan segelas air putih.
Dia hanya menggeleng.
"Baiklah, sekarang kamu tidur besok kita cari rumahmu" ku pegang kedua sayap mainan itu untuk dilepas. Tapi merekat kuat.
"Ma, ini bukan mainan" ucapnya perlahan.
Ku tatap wajahnya, sinar terang terpancar disana. Aku duduk disampingnya.
"Ma,aku malaikat yang diutus Tuhan untuk menitis kedalam janin yg mama kandung, aku janin yang dulu mama tidak kehendaki" ia terdiam sejenak.
"Sewaktu aku akan masuk dalam perut mama, kulihat mama sedang merintih sakit diruang dukun itu lagi. Dan ku saksikan ragaku berlumur darah didalam baskom" ia berkata tanpa ekspresi.
Aku diam air mataku meleleh, ku ingat baru saja aku menggugurkan kandungan ku di rumah seorang dukun langgananku. Aku hanya seorang pelacur, sering kali aku hamil dan sering pula kugugurkan. Aku tak mungkin bisa mendidik anak. Aku hanya pelacur jalang. Maka ku putuskan aku tak mau melahirkan anak.
"Ma, aku rindu pelukan. Tiga tahun aku mencoba pulang dan mama masih menolak ku" ucap nya perlahan.
ada harapan dimatanya yg mulai memudar.
Kali ini airmataku menetes, baru kali ini aku merasa menyesal telah menggugurkan kandunganku.
Ku peluk tubuh kecilnya. Tak berapa lama ku rasa ada yang aneh, ku buka mata dan ku dapati hanya ada sepasang sayap yang ku dekap erat.
Malaikat kecil itu telah pergi. Aku kembali tersedu di sofa usang rumah ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar