Entri Populer

Rabu, 10 November 2010

Ambillah Anakku dari Rahimku Tuhan..


Anakku…
Dalam sunyi kuhantarkan doa untuk mu, malaikat yang kini menghuni rahim di perutku. Seribu ungkapan tentang sayang dan harapan untuk menimangmu, agar hadirmu melukiskan tawa di bibirku, mengukir bangga di hatiku. Seperti pelangi yang mengadakan pagelaran di langit hati. Indah. Bagai  matahari yang mengusung cahaya memeluk kegelapan.
Untukmu ku mohonkan doa tertinggi, doa terbaik yang aku mampu ucapkan, agar hidupmu selalu dalam lindungan Tuhan.

Namun…
Selayaknya bukan sekarang kau hadir, kala belum jelas kutata hariku untuk menyambutmu, belum ku beli bahagia yang akan menimang hidupmu nanti. Dan ketika cintaku terpatah patah entah dimana, aku hanya memiliki kehampaan yang sia sia.
Bukan kini ketika aku masih butuh kesendirian untuk mengobati luka luka yang berceceran. Luka yang masih basah oleh air mata, oleh kecewa dan keputusasaan. Bukan kini seharusnya kau datang menyapa kehidupan ku, aku belum bisa menyeka air mata atas luka yang terus mengalirkan darah dihatiku.

Anakku…
Dunia ini hanyalah sebatas tempat singgah untuk mu, kala kau menuju tempat yang kekal nanti, namun ketika kau singgah, aku tak ingin kau berada dalam perih yang aku bawa. Perih yang akan membayangi sepanjang usia mu.
Kasih sayang ku teramat besar pada mu, namun aku tahu Tuhan lebih mengasihimu, Ia adalah muara kasih yang tak pernah surut, kembalilah anakku, kembali pada-Nya yang menjanjikan terang disampingnya. kembali lah pada-Nya yang melingkupi hatimu dengan kasih-Nya.

Lihatlah hidupku sekarang, betapa sulitnya ku angakat tanganku untuk menyeka air mata, mampukah aku menggendongmu kelak? Semua jemariku seakan lumpuh untuk melakukan apapun.
Lihatlah hatiku.. tak pernah tertulis nama ayah yang menjadi ayah bagimu kini, ia pahit yang terus membayangiku hingga kini, ia adalah perih yang membuat lukaku kian menganga. Ia adalah angin yang meniup lilin lilin di kehidupanku. Hadirnya membuat hidupku terasa gelap gulita.
Lihatlah masa depan ku. Masa depan??? Bahkan aku sendiri ragu untuk menyebutnya ada untukku setelah hari itu.

Anakku…
Dulu aku mempunyai mimpi yang indah tentang kehadiranmu, dimana aku merindukan tangisan manja diri bibir kecilmu, lalu seorang yang aku cintai mengusap perutku dan berkata “kelak anak kita lahir, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia” dan aku seperti terbawa terbang oleh kata-katanya. Dialah yang kuharapkan menjadi seseorang yang kelak kau sebut dengan “ayah”.
Lalu aku dan dan ayah mu menyulamkan pelangi kehidupan untukmu, dan ketika kau terlahir kau lihat betapa indahnya dunia yang dipenuhi dengan warna warni cinta. Ketika kau beranjak dewasa akan kau katakana padaku tentang betapa bahagianya dirimu memilikiku sebagai ibumu.
Kini semua impian itu memburam, menjadi abu yang terbakar oleh keputusasaan. Tak ada lagi harapan tentang seorang yang akan mengelus perutku, tak ada lagi pelangi yang akan mengindahkanmu. Seorang yang menghancurkan semuanya adalah orang yang kelak kau sebut dia dengan “ayah”. Rasanya tak rela ku sandingkan diriku dengan dirinya sebagai orang tuamu. Bahkan kini ia pun telah mati ku tikam dengan belati. Akulah pembunuh ayah mu, akulah yang membuatmu yatim sebelum enggkau terlahir. Begitu banyak kesalahanku. Hidupku berlumur dosa yang teramat. Tangan ini tak pantas menimang tubuh mungilmu, lalu membelai rambutmu.. Maafkan aku.

Dulu hati ku tidak seperti ini, hatiku menyerupai taman bunga yang dipenuhi bunga yang bermekaran. Seperti langit yang berhiaskan bintang kala malam tiba. Penuh cinta, harapan, dan kebahagiaan.
Dulu aku tak pernah merasa kesepepian seperti hari ini, selalu ada malaikat yang menangkupkan cinta dan menemaniku kemanapun dengan lekat bayangnya. Ia selalu ada. Di hariku, di hatiku, dimimpiku, bahkan di tiap hela nafasku. Kini kehadirannya tergantikan oleh kelam yang tak berujung terang.
Aku kini tak lagi memiliki keberanian untuk menemuinya, aku tak berani menyapanya. Ku tinggalkan ia jauh dari hidupku, agar ia tak mereguk kecewa seperti diriku.

Anakku..
Percayalah, ketika seluruh benci aku kumpulkan untuk mengubur ayah mu, tak sedikitpun rasa itu tercecer untukmu. Hanya kasih sayang yang aku berikan padamu. namun semua tak akan cukup membuatmu bahagia.
Dengarlah diluar ketika orang-orang mencibirku tentang seorang wanita yang hamil karna diperkosa.
Dengarlah ketika nanti engkau berjalan mereka akan berbisik samar tentang anak haram, betapa semua itu menyakiti hatiku, bahkan lebih sakit dari luka ketika ayahmu memperkosa ku.
Anakku...
Pulanglah, rindukanlah pangkuan Tuhan yang selama ini membelai lembut rambutmu. Sampaikanlah pada-Nya kelak aku akan memintamu hadir lagi dalam rahimku kala luka ku telah sembuh. Sampaikanlah pada-Nya bahwa diriku membutuhkan lingkupan tangannya untuk menyembuhkan sakit ini.
Anakku.. lihatlah air mata ini, yang mengalir dari mataku. Semua karna ketidak relaan ku mengatakan semua ini padamu.

Anakku...
Bila nanti engkau telah memahami gejolak yang terus ada dalam hatiku, resah yang terus bergelayut dipikirku, maka kecuplah hatiku, dan pergilah dengan keihklasanmu. Pergilah dengan sejuta kepercaan bahwa aku tidak mencapakkan mu, melainkan melindungi mu. Pergilah anakku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar