Mencintainya adalah hal terindah yang pernah aku rasakan. Anugerah Tuhan yang singgah kedalam hati kemudian menyebarkan wangi disana. Harum yang terus ke kecup hingga saat ini.
Mencintainya adalah pagi yang memberi harapan bagi mentari untuk bersinar lagi. Seperti wadah menuangkan rasa, meluapkan rindu dan menghadirkan tawa dalam hidupku. Selalu ada semangat yang membuat ku terpacu untuk melakukan apapun.
Mencintainya adalah menemukan hati serupa pelangi. Indah. Menyendiri dalam pagelaran langit seusai hujan. Ia hadir tepat disaat air mata ku mereda ketika aku kehilangan cinta. Ia mewarnai hatiku, cerah.
Dia adalah seseorang yang mampu menyentuh hatiku hingga sudut terdalam, yang merangkaikan tawa diantara kepingan luka yang aku punya.
**
Tahun ini adalah tahun tersulit bagiku. Usiaku menginjak 30 tahun. Usia yang cukup matang bagiku untuk menjalani suatu pernikahan. Usia dimana kedua orang tuaku mendambakan bayi mungil terlahir dari rahimku, yang kelak akan mereka panggil dengan “cucuku”. Harapan yang mereka tumpukan padaku sejak lima tahun lalu. Ya.. lima tahun yang lalu sebuah pernikahan telah terencana dengan baik. Semua persiapan hampir mencapai 80% . Hari itu, ketika Ia mengambil cincin pesanan kami, sebuah peluru menembus dadanya. Darah mengalir pekat membasahi kemeja putih yang ia kenakan. Perampokan terjadi di toko itu. Sepasang cincin berdarah yang kembali padaku. Sementara ia pergi melayang meninggalkanku bersama kenangan. Kenangan termanis yang kukecap sepanjang kehidupanku.
Sejak saat itu, hatiku terasa mati untuk mencintai orang lain. Hanya ada dia dengan segala rupa yang menjelma, hingga di mataku ia nampak sempurna. Sejak kepergiaanya aku seperti terhenti dari detakan waktu. seperti hidup ditahun-tahun yang telah berlalu. Tak mengalami perubahan.
Sejak saat itu, cintaku hanyalah khayalan, dan kepingan kepingan rindu terus tanggal dari kelopak hati yang tak bertuan. Aku tidak gila, tidak juga berhenti bersosialisasi. Aku tetap melanjutkan hidupku seperti biasa, kecuali mencinta. Cinta ku seperti air yang telah beku, tak lagi mampu mengalir.
Tapi kini aku harus menata kembali hidupku, masa depanku, duniaku dan belajar untuk berdiri tanpa bayangannya lagi. Mungkin bukan untuk hidupku bukan untuk hatiku dan bukan untuk duniaku ku lakukan semua ini. Untuk kedua orang tuaku yang semakin banyak keriput diusia senjanya, yang rambutnya mulai memutih.
**
Aku ingin melupakannya, berhenti mencintainya, dan percaya pada takdir Tuhan bahwa ia bukan jodoh yang Tuhan ijinkan untuk memilikiku. Namun dari mana aku harus memulai melupakkannya?
Apakah dari pertemuan ku pertama kali dengannya? Ah.. itu malah membangkitkan kenangan ku tentang betapa pesona dirinya terlalu kuat, betapa tatap matanya membuat ku jatuh cinta. Cinta yang sampai kini tak bisa ku lupakan.
Atau kumulai dari ketika ia mengucapkan cinta? Bisakah? Bukankah kenangan akan dewi semalan yang berikan padaku makin membuatku luruh. Luruh dalam romantisme yang kini hanya sebatas kenangan. Saat itu ia menjadikan ku dewi, dengan memberikan bunga ditiap sudut rumah ku, memberi ku puisi di tiap jam, memberiku hadiah hadiah yang ia kirimkan melalui jasa pengiriman dia tiap jam selama 1 malam penuh. Itu adalah hari paling bahagia untukku. Semua itu bukannya membuatku melupakannya, malah mengingatkanku batapa ingin kuhidupkan dirinya kembali lalu ku ulang hari itu.
Haruskah ku lupakan mulai dari hari kematiaanya? Kematiannya adalah pengorbanan, adalah bukti betapa cinta yang ia miliki ia tukar dengan nyawanya. Itu adalah bukti cinta terdalam untukku. Sanggupkah aku melupakannya?
Bagaimana aku melupakanya sementara aku tak memiliki benci yang bisa kujadikan kendaraan untuk meninggalkannya. Sementara aku tak punya air mata yang terlahir karenanya yang bisa ku kukenakan untuk menenggelamkan kenangan bersamanya.
**
Ia hanyalah pelangi bagiku, hadir seusai hujan dan kembali pergi kala matahari talah terang. Ia hanyalah malaikat yang di minta Tuhan melukisnya senyum terbaikku bagi kehidupan. Ia adalah kenyataan yang melingkupi hati ku dengan cinta lalu pergi meninggalkanku dalam cinta pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar