Entri Populer

Minggu, 14 November 2010

Penantian Terpanjang

Mataku menerawang menatap langit langit kamar ku. Kamar yang luas dengan berbagai pernik klasik kesukaanku. Kamar yang tidak hanya indah tapi juga wangi. Sayang semua berasa tak berarti karna sepi lebih merajai ketimbang segala keindahan yang ada.

Sepi yang kini menjadi ketakutan dalam hidupku. Yang kini menjadi sangat aku benci, ingin ku enyahkan tapi tak bisa.

**

usiaku telah melewati angka 40 tahun tapi aku masih sendiri . Tak ada anak anak yang menyambutku pulang dari kantor. Tak ada suami yang bisa ku peluk saat dingin menyekap ku.

Baru kini ku sadari kesempurnaan memang tak pernah ada, kesempurnaan hanyalah batas mimpi yang tak sampai pada kenyataan.

Ketika usiaku menginjak 25 tahun aku mencari lelaki yang tampan, umurnya tidak terpaut jauh dariku tapi karirnya lebih cemerlang dariku, otaknya lebih pintar dan tentu hartanya jauh lebih besar.
Ternyata orang seperti itu sebagian besar orang yang kaku, tak punya banyak waktu dan kurang romantis.

Lalu ketika usia ku mulai 30 tahun ku tetapkan target yang berbeda lelaki yang tentunya lebih tua dariku, punya pekerjaan tetap dan dari keluarga baik baik lalu bersifat kebapakan.
Ternyata tak mudah pula menemukannya karna sebagian besar orang seperti itu  sudah beristri.

Merebut suami orang? Upts.. Maaf itu bukan pilihan yang baik menurutku.

Ketika mencapai usia 35 th aku makin kelimpungan menentukan jodoh ku kelak. Ku cari lelaki yang mapan dan perhatian dan tentunya yang masih single. Itu syarat mutlak Karna aku juga single. Tapi banyak lelaki yang mengiraku telah bersuami. Dan tentunya mereka tak melirik ku. Mungkin keriput keriput diwajahku telah terlihat.

Dan saat usiaku kini telah 40 th. Aku merasa tak butuh syarat lagi mencari suami. Yang terpenting adalah ia mencintaiku dan dapat menghidupiku. Itu saja. Tak peduli muda atau tua. Tak peduli perjaka atau duda. Ternyata tak jua kutemukan.

Sepertinya Tuhan mengujiku karna aku terlalu banyak memilih. Terlalu menuntut kesempurnaan, tanpa menyadari. Aku pun tak sempurna.
Namun kini yang menjadi penyesalan terdalam bagiku adalah tentang anak. Mungkinkah aku masih di anugerahi buah hati ketika bersuami nanti??

**

Air mata yang kembali menetes malam ini, doa doa telah terbang menembus langit tapi tak juga aku merasa tenang.
Bayangan tentang hari tua yang sendiri, lalu hidup di panti jompo.
Oh Tuhan.. maafkan aku.

Malaikat Merindu Pelukan

Aku berjalan tertatih menyusuri jalan menuju rumahku. Sebuah gang kecil yang kumuh. Dari kejauhan aku melihat seorang gadis kecil berusia tiga tahunan duduk di samping tong sampah. Semakin dekat, kulihat ada kilatan cahaya dimatanya, wajahnya ayu, bersih. Tapi kenapa ia disini hatiku bertanya tanya.

"Ma.." ucap sigadis ayu tersebut ketika aku melewatinya.
Aku tekesima mendengarnya memanggil ku mama.
Aku membalikkan badan, ku hampiri anak tersebut. "Kamu siapa?kenapa disini malam malam?" ucap ku perlahan.
...
Dia diam tak menjawab, matanya menatap mataku.
"baiklah ayo ikut aku" aku menggendong gadis itu menuju kerumah.

**

Disofa usang kududukkan ia, kuperhatikan sepasang sayap mainan yang ia kenakan..

"Dimana rumahmu nak" ku sodorkan segelas air putih.

Dia hanya menggeleng.

"Baiklah, sekarang kamu tidur besok kita cari rumahmu" ku pegang kedua sayap mainan itu untuk dilepas. Tapi merekat kuat.

"Ma, ini bukan mainan" ucapnya perlahan.

Ku tatap wajahnya, sinar terang terpancar disana. Aku duduk disampingnya.

"Ma,aku malaikat yang diutus Tuhan untuk menitis kedalam janin yg mama kandung, aku janin yang dulu mama tidak kehendaki" ia terdiam sejenak.
"Sewaktu aku akan masuk dalam perut mama, kulihat mama sedang merintih sakit diruang dukun itu lagi. Dan ku saksikan  ragaku berlumur darah didalam baskom" ia berkata tanpa ekspresi.

Aku diam air mataku meleleh, ku ingat baru saja aku menggugurkan kandungan ku di rumah seorang dukun langgananku.
Aku hanya seorang pelacur, sering kali aku hamil dan sering pula kugugurkan. Aku tak mungkin bisa mendidik anak. Aku hanya pelacur jalang. Maka ku putuskan aku tak mau melahirkan anak.

"Ma, aku rindu pelukan. Tiga tahun aku mencoba pulang dan mama masih menolak ku" ucap nya perlahan.
ada harapan dimatanya yg mulai memudar.

Kali ini airmataku menetes, baru kali ini aku merasa menyesal telah menggugurkan kandunganku.
Ku peluk tubuh kecilnya. Tak berapa lama ku rasa ada yang aneh, ku buka mata dan ku dapati hanya ada sepasang sayap yang ku dekap erat.
Malaikat kecil itu telah pergi. Aku kembali tersedu di sofa usang rumah ku.

Kamis, 11 November 2010

Ajari Aku Melupakannya

Mencintainya adalah hal terindah yang pernah aku rasakan. Anugerah Tuhan yang singgah kedalam hati kemudian menyebarkan wangi disana. Harum yang terus ke kecup hingga saat ini.
Mencintainya adalah pagi yang memberi harapan bagi mentari untuk bersinar lagi. Seperti wadah menuangkan rasa, meluapkan rindu dan menghadirkan tawa dalam hidupku. Selalu ada semangat yang membuat ku terpacu untuk melakukan apapun.
Mencintainya adalah menemukan hati serupa pelangi. Indah. Menyendiri dalam pagelaran langit seusai hujan. Ia hadir tepat disaat air mata ku mereda ketika aku kehilangan cinta. Ia mewarnai hatiku, cerah.
Dia adalah seseorang yang mampu menyentuh hatiku hingga sudut terdalam,  yang merangkaikan tawa diantara kepingan luka yang aku punya.

**

Lima tahun berlalu, aku masih saja mencintainya, masih membingkai indah hatinya berdampingan dengan hatiku. Aku masih mencium aroma rindu yang biasa ia tebarkan kala lama tak berjumpa denganku. Dan kenangan tentang dirinya seolah adalah film favorite yang terus kuputar sesukaku, kapanpun dimanapun ketika aku mulai merindukannya.  
Tahun ini adalah tahun tersulit bagiku. Usiaku menginjak 30 tahun. Usia yang cukup matang bagiku untuk menjalani suatu pernikahan. Usia dimana kedua orang tuaku mendambakan bayi mungil terlahir dari rahimku, yang kelak akan mereka panggil dengan “cucuku”. Harapan yang mereka tumpukan padaku sejak lima tahun lalu. Ya.. lima tahun yang lalu sebuah pernikahan telah terencana dengan baik. Semua persiapan hampir mencapai 80% . Hari itu, ketika Ia mengambil cincin pesanan kami, sebuah peluru menembus dadanya. Darah mengalir pekat membasahi kemeja putih yang ia kenakan. Perampokan terjadi di toko itu. Sepasang cincin berdarah yang kembali padaku. Sementara ia pergi melayang meninggalkanku bersama kenangan. Kenangan termanis yang kukecap sepanjang kehidupanku.
Sejak saat itu, hatiku terasa mati untuk mencintai orang lain. Hanya ada dia dengan segala rupa yang menjelma, hingga di mataku ia nampak sempurna. Sejak kepergiaanya aku seperti terhenti dari detakan waktu. seperti hidup ditahun-tahun yang telah berlalu. Tak mengalami perubahan.
Sejak saat itu, cintaku  hanyalah khayalan, dan kepingan kepingan rindu terus tanggal dari kelopak hati yang tak bertuan. Aku tidak gila, tidak juga berhenti bersosialisasi. Aku tetap melanjutkan hidupku seperti biasa, kecuali mencinta. Cinta ku seperti air yang telah beku, tak lagi mampu mengalir.
Tapi kini aku harus menata kembali hidupku, masa depanku, duniaku dan belajar untuk berdiri tanpa bayangannya lagi. Mungkin bukan untuk hidupku bukan untuk hatiku dan bukan untuk duniaku ku lakukan semua ini. Untuk kedua orang tuaku yang semakin banyak keriput diusia senjanya, yang rambutnya mulai memutih.

**

Aku ingin melupakannya, berhenti mencintainya, dan percaya pada takdir Tuhan bahwa ia bukan jodoh yang Tuhan ijinkan untuk memilikiku. Namun dari mana aku harus memulai melupakkannya?
Apakah dari pertemuan ku pertama kali dengannya? Ah.. itu malah membangkitkan kenangan ku tentang betapa pesona dirinya terlalu kuat, betapa tatap matanya membuat ku jatuh cinta. Cinta yang sampai kini tak bisa ku lupakan.
Atau kumulai dari ketika ia mengucapkan cinta? Bisakah? Bukankah kenangan akan dewi semalan yang berikan padaku makin membuatku luruh. Luruh dalam romantisme yang kini hanya sebatas kenangan. Saat itu ia menjadikan ku dewi, dengan memberikan bunga ditiap sudut rumah ku, memberi ku puisi di tiap jam, memberiku hadiah hadiah yang ia kirimkan melalui jasa pengiriman dia tiap jam selama 1 malam penuh. Itu adalah hari paling bahagia untukku. Semua itu bukannya membuatku melupakannya, malah mengingatkanku batapa ingin kuhidupkan dirinya kembali lalu ku ulang hari itu.
Haruskah ku lupakan mulai dari hari kematiaanya? Kematiannya adalah pengorbanan, adalah bukti betapa cinta yang ia miliki ia tukar dengan nyawanya. Itu adalah bukti cinta terdalam untukku. Sanggupkah aku melupakannya?
Bagaimana aku melupakanya sementara aku tak memiliki benci yang bisa kujadikan kendaraan untuk meninggalkannya. Sementara aku tak punya air mata yang terlahir karenanya yang bisa ku kukenakan untuk menenggelamkan kenangan bersamanya.

**

Ia hanyalah pelangi bagiku, hadir seusai hujan dan kembali pergi kala matahari talah terang. Ia hanyalah malaikat yang di minta Tuhan melukisnya senyum terbaikku bagi kehidupan. Ia adalah kenyataan yang melingkupi hati ku dengan cinta lalu pergi meninggalkanku dalam cinta pula.

Rabu, 10 November 2010

Ambillah Anakku dari Rahimku Tuhan..


Anakku…
Dalam sunyi kuhantarkan doa untuk mu, malaikat yang kini menghuni rahim di perutku. Seribu ungkapan tentang sayang dan harapan untuk menimangmu, agar hadirmu melukiskan tawa di bibirku, mengukir bangga di hatiku. Seperti pelangi yang mengadakan pagelaran di langit hati. Indah. Bagai  matahari yang mengusung cahaya memeluk kegelapan.
Untukmu ku mohonkan doa tertinggi, doa terbaik yang aku mampu ucapkan, agar hidupmu selalu dalam lindungan Tuhan.

Namun…
Selayaknya bukan sekarang kau hadir, kala belum jelas kutata hariku untuk menyambutmu, belum ku beli bahagia yang akan menimang hidupmu nanti. Dan ketika cintaku terpatah patah entah dimana, aku hanya memiliki kehampaan yang sia sia.
Bukan kini ketika aku masih butuh kesendirian untuk mengobati luka luka yang berceceran. Luka yang masih basah oleh air mata, oleh kecewa dan keputusasaan. Bukan kini seharusnya kau datang menyapa kehidupan ku, aku belum bisa menyeka air mata atas luka yang terus mengalirkan darah dihatiku.

Anakku…
Dunia ini hanyalah sebatas tempat singgah untuk mu, kala kau menuju tempat yang kekal nanti, namun ketika kau singgah, aku tak ingin kau berada dalam perih yang aku bawa. Perih yang akan membayangi sepanjang usia mu.
Kasih sayang ku teramat besar pada mu, namun aku tahu Tuhan lebih mengasihimu, Ia adalah muara kasih yang tak pernah surut, kembalilah anakku, kembali pada-Nya yang menjanjikan terang disampingnya. kembali lah pada-Nya yang melingkupi hatimu dengan kasih-Nya.

Lihatlah hidupku sekarang, betapa sulitnya ku angakat tanganku untuk menyeka air mata, mampukah aku menggendongmu kelak? Semua jemariku seakan lumpuh untuk melakukan apapun.
Lihatlah hatiku.. tak pernah tertulis nama ayah yang menjadi ayah bagimu kini, ia pahit yang terus membayangiku hingga kini, ia adalah perih yang membuat lukaku kian menganga. Ia adalah angin yang meniup lilin lilin di kehidupanku. Hadirnya membuat hidupku terasa gelap gulita.
Lihatlah masa depan ku. Masa depan??? Bahkan aku sendiri ragu untuk menyebutnya ada untukku setelah hari itu.

Anakku…
Dulu aku mempunyai mimpi yang indah tentang kehadiranmu, dimana aku merindukan tangisan manja diri bibir kecilmu, lalu seorang yang aku cintai mengusap perutku dan berkata “kelak anak kita lahir, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia” dan aku seperti terbawa terbang oleh kata-katanya. Dialah yang kuharapkan menjadi seseorang yang kelak kau sebut dengan “ayah”.
Lalu aku dan dan ayah mu menyulamkan pelangi kehidupan untukmu, dan ketika kau terlahir kau lihat betapa indahnya dunia yang dipenuhi dengan warna warni cinta. Ketika kau beranjak dewasa akan kau katakana padaku tentang betapa bahagianya dirimu memilikiku sebagai ibumu.
Kini semua impian itu memburam, menjadi abu yang terbakar oleh keputusasaan. Tak ada lagi harapan tentang seorang yang akan mengelus perutku, tak ada lagi pelangi yang akan mengindahkanmu. Seorang yang menghancurkan semuanya adalah orang yang kelak kau sebut dia dengan “ayah”. Rasanya tak rela ku sandingkan diriku dengan dirinya sebagai orang tuamu. Bahkan kini ia pun telah mati ku tikam dengan belati. Akulah pembunuh ayah mu, akulah yang membuatmu yatim sebelum enggkau terlahir. Begitu banyak kesalahanku. Hidupku berlumur dosa yang teramat. Tangan ini tak pantas menimang tubuh mungilmu, lalu membelai rambutmu.. Maafkan aku.

Dulu hati ku tidak seperti ini, hatiku menyerupai taman bunga yang dipenuhi bunga yang bermekaran. Seperti langit yang berhiaskan bintang kala malam tiba. Penuh cinta, harapan, dan kebahagiaan.
Dulu aku tak pernah merasa kesepepian seperti hari ini, selalu ada malaikat yang menangkupkan cinta dan menemaniku kemanapun dengan lekat bayangnya. Ia selalu ada. Di hariku, di hatiku, dimimpiku, bahkan di tiap hela nafasku. Kini kehadirannya tergantikan oleh kelam yang tak berujung terang.
Aku kini tak lagi memiliki keberanian untuk menemuinya, aku tak berani menyapanya. Ku tinggalkan ia jauh dari hidupku, agar ia tak mereguk kecewa seperti diriku.

Anakku..
Percayalah, ketika seluruh benci aku kumpulkan untuk mengubur ayah mu, tak sedikitpun rasa itu tercecer untukmu. Hanya kasih sayang yang aku berikan padamu. namun semua tak akan cukup membuatmu bahagia.
Dengarlah diluar ketika orang-orang mencibirku tentang seorang wanita yang hamil karna diperkosa.
Dengarlah ketika nanti engkau berjalan mereka akan berbisik samar tentang anak haram, betapa semua itu menyakiti hatiku, bahkan lebih sakit dari luka ketika ayahmu memperkosa ku.
Anakku...
Pulanglah, rindukanlah pangkuan Tuhan yang selama ini membelai lembut rambutmu. Sampaikanlah pada-Nya kelak aku akan memintamu hadir lagi dalam rahimku kala luka ku telah sembuh. Sampaikanlah pada-Nya bahwa diriku membutuhkan lingkupan tangannya untuk menyembuhkan sakit ini.
Anakku.. lihatlah air mata ini, yang mengalir dari mataku. Semua karna ketidak relaan ku mengatakan semua ini padamu.

Anakku...
Bila nanti engkau telah memahami gejolak yang terus ada dalam hatiku, resah yang terus bergelayut dipikirku, maka kecuplah hatiku, dan pergilah dengan keihklasanmu. Pergilah dengan sejuta kepercaan bahwa aku tidak mencapakkan mu, melainkan melindungi mu. Pergilah anakku...

Senin, 08 November 2010

KUNAMAI IA RINDU

Serupa jingga senja dimataku
Sendu memendam bayangmu
menapak jejak kenangan

Hanya ada kamu..
Menyeruak jauh dalam kalbu

Kunamai ia rindu
Yang mengalir gemericik ditiap pikirku..

Kunamai ia rindu
Yang mekar ditaman hati
Lebih wangi ketimbang melati..

Kunamai ia rindu
Yang air mataku menjadi embun penyejuk
Di tiap kelopaknya...

Rabu, 03 November 2010

TAKDIR TUHAN

Ditangan-Mu Tuhan kau ukir hatiku

Kau letakkan perih agar aku memohon...

Kau letakkan sedih agar aku merenung...

Lalu Kau beri aku tawa agar aku bersyukur...

Kau tinggalkan tanya tentang mengapa  dan kenapa
agar aku senantiasa dekat dengan-Mu
mengurai apa yang tak ku tahu hanya kepada-Mu

Di tangan-Mu Tuhan ku letakkan seluruh hidupku

sinopsis

“Tuhan… aku hanya ingin mengadu tentang kerisauanku, bukan memohon Kau ubah takdirku.
Tuhan… aku percaya semua ketentuan-Mu adalah jalan terbaik untukku, dan aku tak akan pernah berhenti bersyukur atas apa yang telah Engkau tetapkan sebagai takdirku.
Biarkan aku mengadu hanya kepadaMu.… Biarkan air mata ini tertumpah hanya dihadapan-Mu.”
***
            Tria baru berusia 19 tahun ketika Dokter menvonisnya dengan penyakit hepatitis B. Semua berawal dari diadakan pemeriksaan darah di kampusnya. Tak ada tanda-tanda sebelumnya. Tak nampak gejala-gejala atau hal aneh pada dirinya. Hingga di suatu sore, Dokter memberi tahu hasil pemeriksaan darah yang dilakukan  seminggu sebelumnya.
            Sungguh ini merupakan tamparan terdasyat dalam hidup Tria. Bagai tersambar petir ratusan kali dan ia dihidupkan kembali. Hingga sisa-sisa pedih dan perih masih nyata dirasakannya. Namun apa yang dialaminya tak membuatnya putus asa. Ia selalu mencoba tegar. Meskipun terkadang ia tak mampu menahan kelopaknya untuk terjatuh ketika angin menerpanya.
Bertahan diantara amukan badai memang tak mudah
Tapi berlindung di tangan Tuhan
membuat segalanya menjadi mudah

            Apa yang menimpanya membuat Tria belajar banyak hal. Tentang hidup dan rasa terimakasih... tentang cinta dan ketulusan... tentang kasih sayang dan pengorbanan. Ia percaya bahwa ketika Tuhan telah berkehendak atas takdir manusia, maka itulah sebaik baiknya takdir kehidupan yang harus ia jalani. Bahwa ketikaTuhan menguji umat-Nya maka itulah bukti kasih Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Peringatan bahwa kehidupan manusia semua akan terjadi bila Dia berkehendak.
Tuhan adalah takdir
Kehendak manusia hanyalah doa
Dan Tuhan selelu menyalakan harapan
Untuk jiwa-jiwa yang percaya akan keajaiban-Nya
Untuk jiwa-jiwa yang percaya akan keajaiban-Nya