Entri Populer

Senin, 06 Desember 2010

cinta sejati

Pagi tadi Ibu menelpon ku bahwa kondisi Mbak Nina memburuk. Mbak Nina mengalami kecelakaan, ia terkena peluru nyasar saat pulang dari kantor kemarin sore, ada bentrok massa dengan polisi. Aku langsung berkemas dan meluncur pulang, karena memang kebetulan aku baru selesai ujian semester, jadi aku bisa di Semarang lama. Menjenguk Mbak Nina dan sekaligus berlibur menghantarkan pelukan pada ibu, rinduku padanya sudah memuncak.
***
Nduk kenalke, iki nak Aryo pacare Mbak’mu,”  Ucap Ibu mengenalkan aku pada seorang lelaki yang sedang duduk di kursi di samping pintu ICU tempat dimana Mbak ku dirawat.
“Dini,” ucapku sambil menjabat tangannya.
”Aryo,” balasnya perlahan, aku merasa ada getar kesedihan disuaranya.
”Mbak Nina Pripun keadaane Buk’e?” tanyaku pada ibuku, dan mengalihkan pandanganku dari Mas Aryo, entah kenapa tiba tiba ada getar aneh dalam hatiku ketika tanganku menyentuh tangannya tadi.
”Yo, ngono kuwi Nduk, durung ono perubahan,” jawab ibu dengan mata berkaca-kaca.
Aku melihat kesedihan yang teramat di wajah ibuku. Kembali kulirik wajah Mas Aryo, Tubuhnya tinngi, kulit putih hidung mancung wajahnya mirip Vino .G Bastian. Ia masih tertunduk lesu tanpa Ekspresi. Aku sering mendengar namanya dari Mbak Nina ketika menelponku, Mas Aryo adalah kekasih Mbak Nina sejak dua tahun lalu, mereka adalah rekan kerja di kantor. Dan bulan depan mereka berencana mengadakan pertunangan. Bisa kuingat bagaimana bahagianya Mbak Nina ketika Mas Aryo melamarnya. Ia bilang bahwa ia adalah dewi yang paling beruntung karna di pinang oleh lelaki seperti Mas Aryo, lelaki yang penyayang, sabar, romantis, berasal dari keluarga baik-baik dan tergolong orang yang kaya. Mas Aryo adalah anak dari Bupati Semarang. Bahkan aku sempat iri dengan keberuntungan yang diperoleh Mbak Nina itu, walaupun pada saat itu aku belum mengenal Mas Aryo, aku yakin Mas Aryo adalah pilihan tepat buat Mbakku, dia sosok lelaki yang sempurna. Sementara aku sudah satu tahun ini menjomblo sejak putus dari kekasihku Firman. Dan aku belum berniat mencari pengganti lagi, kesibukan kuliah membuatku bisa sedikit lupa akan kesendirianku.
***
Semenjak perkenalan itu, aku dan Mas Aryo kian akrab, kami sering menunggui Mbak Nina bersama-sama, sudah beberapa kali kulihat Mas Aryo mulai bisa tersenyum meskipun Mbak Nina belum sadar dari komanya. Senyum itu, keramahan itu, tatapannya. Tak bisa kupungkiri aku telah jatuh cinta padanya. Cinta yang tak seharusnya tumbuh. Cinta yang mekar di taman terlarang. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai kekasih dari kakak ku sendiri sementara kakak ku masih terbaring koma di Rumah Sakit. Aku berusaha menepiskan bayangan Mas Aryo dari banakku, berusaha menjejalkan kenyataan bahwa Mas Aryo itu milik Mbak Nina, aku tak boleh merebutnya. Mbak Nina akan segera sembuh, dan mereka akan bertunangan, aku gak moleh menyusup di antara mereka. Cinta Mas Aryo begitu dalam, tak mungkin berpaling padaku dalam waktu sesingkat ini. Perhatiannya padaku tak lebih dari karna aku adalah adik dari Mbak Nina.
***
Keadaan Mbak Nina membaik, meskipun belum sadar, tapi ia sudah mulai menggerakkan jemarinya. Kemarin saat aku membuka pintu kamar Mbak Nina kulihat Mas Aryo bercakap disamping tempat tidur Mbak Nina tentang pesanan cincin pertunangan yang mereka pesan, tentang betapa ia berharap Mbak Nina segera sadar dan bisa memeluknya kembali, tentang bagaimana dunianya terasa sepi tanpa tawa dari Mbak Nina, ah… tiba tiba air mataku menetes menyaksikan semua itu, cemburu atau rasa kesedihan karna melihat Mbak Nina? Ya keduanya  menyebabkan air mataku menetes, namun bisa kusadari perasaan cemburu itu jauh lebih dalam menusuk hatiku.
Mas Aryo mengajakku ke toko perhiasan mengambil  pesanan cincin mereka, seminggu lagi seharusnya pertunangan itu sadah berlangsung. Kulihat dua buah cincin manis dengan ukiran huruf  ”A” dan huruf ”N”  batapa indahnya. Tiba-tiba tanyan Mas Aryo menyentuh pipiku, ia menghapus air mata jang jatuh disana,
”Kenopo Din,” tanya mas Aryo?
”Sedih Mas, Mbak Nina durung sadar nganti saiki,” kilahku, padahal sungguh dalam hatiku aku cemburu, aku tak kuasa melihat cincin itu untuk Mbak Nina, bukan untukku. Mas Aryo memelukku, mengusap rambutku dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja, Mbak Nina pasti sembuh dan pertunangan itu, akan terjadi.
Tuhan mengapa kau anugerahkan
Cinta yang tak mungkin tuk bersama
Kau yang telah lama kucintai
Ada yang memiliki
Samar kudengar  lagu Ari Lasso di toko sebelah, airmataku menetes kian deras.
***
Terlihat dua orang, lelaki dan perempuan, menyekar makam,
”Besok kami akan menikah, kamu pasti bahagia melihatnya, sayang kamu tak bisa hadir, tapi kuharap kamu mendoakan agar pernikahan kami akan kekal dan bahagia selamanya, seperti mimpi kita dulu waktu masih kanak-kanak, kita akan melahirkan 2 anak yang semuanya laki-laki, baiklah, aku sekarang merubah semua itu, aku akan melahirkan 4 anak yang semuanya laki-laki, dua anakku dan dua lagi kuanggap sebagai anakmu. Kamu senang?”  kata wanita itu, sementara yang laki-laki menghapus air mata yang menetes dipipi yang wanita.
Mereka lalu meninggalkan makam itu, semua kembali sepi, bunga-bunga yang baru ditebar tertiup angin, menutupi nama yang tertulis di nisan.
DINI ARDINARI
LAHIR 20 SEPTEMBER 1987
MENINGGAL 23 JULI  2010
***
Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa ada kecocokan 70% ginjal ku dengan Mbak Nina, aku putuskan untuk menyumbangkan salah satu ginjalku untuknya. Selain aku tak ingin Mbak Nina meninggal dunia, karna aku sangat menyayangi Mbakku itu, juga karena aku tak mau melihat harapan dimata Mas Aryo padam. Biarpun seusainya
aku harus melihat pedih pertunangan mereka lalu pernikahan mereka. Biarlah nanti aku menutup mata saja, pura-pura tak pernah ada cinta. Kedua ginjal Mbak Nina rusak tertembus peluru itu. Seminngu setelah operasi keadaan mbak Nina membaik, dan aku mengalami anfal karna operasi tersebut.

hatiku untukmu

hatiku adalah kanvas
tempatku menjatuhkan air mata
hingga dapat ku lukis hidup
dalam warna kelam penuh luka..
tempat mengukir tawa
hingga ku pahat senyum
dalam bibir penuh suka

hatiku adalah potret
menyimpan bayang mu kekal
hingga matahari mengingkari janji
tak menyapa pagi

hatiku adalah ruang
tempat bagimu singgah
meletakkan tawa
kadang juga luka

cinderella

Aku mencium sesuatu yang tak enak. Sungguh, baunya menusuk hidungku, memaksaku untuk segera bangun dari tidurku.
Saat aku membuka mata, kulihat ruangan yang teramat kumuh, kotor, dan — ya Tuhan! Di pojokan ada tikus sedang mengais makanan sisa. Mendadak aku menjerit sekencang-kencangnya, dan segera berlari. Aku berlari ke kanan, ke kiri…. Aku asing dengan tempat ini. Di mana pintu keluarnya? Aku sudah tak tahan di sini. Badanku terasa gatal-gatal, bau busuk kian tajam tercium, dan debu-debu beterbangan memaksaku untuk bersin berulang kali. Suara tikus-tikus itu membuat bulu kudukku berdiri.
Kuamati ruangan yang berukuran kurang lebih 3×4 meter tersebut. Ada almari kecil yang sudah usang di pojok kiri dan satu kursi reot di sampingnya. Sampah-sampah berserakan di mana-mana. Otakku tak bisa menerka kira-kira ini ruangan apa dan mengapa aku tiba-tiba ada di sini. Juga pakaian ini, mengapa tiba-tiba aku memakainya? Ke mana baju tidurku yang semalam kupakai? Sungguh, semua ini tak bisa masuk dalam akal sehatku. Kucubit tanganku, terasa sakit. Berarti aku tidak sedang bermimpi.
Aku berjalan perlahan menuju almari usang  itu. Kuamati, apakah aku bisa menemukan sesuatu di sana. Kugeser kursi dan tiba-tiba almari pun ikut bergeser. Ternyata ini pintunya, batinku. Kulihat tangga rapuh yang berada di luar pintu tersebut, dan aku pun menuruninya perlahan-lahan.
Sampai di ruang bawah, tak ada yang istimewa. Rumah kuno dengan perabotan yang seadanya, namun tampak lebih bersih dari ruang tempatku tidur tadi. Aku memanggil-manggil, berharap ada seseorang yang akan menjelaskan padaku di manakah aku sekarang. Sia–sia. Tak ada seorangpun yang menyahutiku, rumah ini sepi. Sepertinya sang pemilik sedang pergi. Samar-samar kudengar derap kaki kuda dari luar rumah. Aku keluar, melihat banyak gadis cantik dengan dandanan yang kuno menaiki kereta kuda menuju ke arah selatan. Kulihat matahari sudah hampir terbenam. Aku baru menyadari bahwa ini sore hari. kupikir tadi pagi hari, karena aku baru saja bangun dari tidur. Kuhentikan langkah seorang gadis berkereta kuda yang kutemui selanjutnya. Aku bertanya mengapa semua gadis menuju ke sana. Pengawal dari gadis itu menjawab istana sedang mengadakan pesta, Pangeran mencari calon istri. Aku seperti teringat sesuatu, seperti kisah Cinderella. Pasti ibu tiri dan kedua saudara tiriku sedang ke pesta itu.
Tiba-tiba aku diliputi perasaan senang, kalau benar aku berada di dunia Cinderella, maka aku adalah Cinderella yang beruntung itu, yang sebentar lagi akan didatangi ibu peri untuk diubah menjadi putri yang cantik jelita… Berarti aku bisa meminta… Syalala lalala.. syalala lalala… Aku beryanyi-nyanyi menunggu Ibu Peri. Satu jam berlalu, matahari sudah tak tampak, Ibu Peri tak juga menampakkan dirinya. Ibu Peri, di mana kamu? Ayo, cepatlah datang! Aku menantikanmu
”Cinderella, kau menungguku?”
Tiba- tiba sesosok wanita cantik bersayap menghampiriku. Aku mengusap-usap mataku, tak percaya dengan apa yang kulihat. Benarkah ini Ibu Peri yang akan menjadikanku putri? Entahlah. Tapi setidaknya kini aku memiliki harapan.
”Kenapa diam?” tanya Ibu Peri itu.
“E…. Apakah Anda Ibu Peri dalam dongeng Cinderella?” tanyaku dengan sedikit gugup. Aku masih tak percaya dengan apa  yang kualami saat ini.
“Hei, Cinderella sayang, ini bukan dunia dongeng. Apakah engkau mau ikut pesta pangeran?” jawab Ibu Peri
”Ibu Peri, apakah engkau akan mengubahku menjadi putri?”
”Ya, putri cantik. Itu yang engkau mau bukan?”
”Ibu bisa memberikan apapun yang aku minta?” tanyaku lagi.
”Aku peri, tentu aku bisa melakukannya. Engkau ragu sayang?” balasnya meyakinkan aku.
”Ibu, aku tak mau jadi putri cantik. Aku tak peduli dengan pesta pengeran itu, dan aku juga tak peduli siapa kelak yang akan dipinang oleh pangeran, Ibu…,” aku berhenti bicara. Kurasakan tiba-tiba air mataku menetes membasahi pipiku.
”Kenapa Cinderella?” tanya Ibu Peri sembari mengusap air mataku.
”Ibu, aku ingin Ibu mengembalikanku ke duniaku. Aku bukan Cinderella. Aku tak mau terus di sini. Ibu Peri, kumohon kembalikan aku ke Jakarta, kota tempat tinggalku di tahun 2010. Tahun di mana aku hidup sebelum secara tiba-tiba berada di negeri dongeng ini. Kumohon…,” pintaku mengiba dengan genangan air mata di sudut mataku.
”Cinderella! Kau jangan berkhayal!” teriaknya. Suaranya terdengar marah. Ibu Peri sepertinya tak percaya penjelasanku.
Aku diam saja tak berani menatapnya. Aku takut ia semakin murka dan mengubahku jadi tikus.
”Aku datang untuk mengubahmu menjadi putri. Kalau kau tak mau, tak apa. Tapi jangan meminta sesuatu yang aneh dan jangan mengarang cerita bohong. Aku tak suka!” lanjut Ibu Peri. “Baiklah, kutanya sekali lagi. Apakah kau mau pergi
ke pesta pangeran itu?” tanya Ibu Peri.
”Tentu Ibu Peri, tentu aku ingin ke sana jika aku memang Cinderella. Tapi aku bukan dia. Aku tersesat di sini,” air mataku kian deras. Aku takut jika aku tak bisa kembali lagi ke duniaku. Bagaimana jika aku memang harus menjadi Cinderella?
”Baiklah, Cinderella. Kurasa tak ada yang bisa kulakukan di sini. Kau tak butuh bantuanku bukan?” Ibu Peri terlihat semakin geram saja terhadapku.
”Maaf Ibu, aku tak sedikitpun berbohong. Aku benar-benar bukan Cinderella! Percayalah padaku!” sekali lagi aku memohon, berharap Ibu Peri mengabulkan pintaku.
” Cinderella, aku tak mengerti maksudmu. Sudah sebaiknya aku pergi.”
” Jangan…”
Ibu Peri sudah tak tampak lagi. Aku menangis tersedu meratapi diriku.
***
Plook…plok…plok… Kudengar tepuk tangan yang sangat meriah. Sorot lampu pun penuh menyinari wajahku. Aku tersenyum lega. Akhirnya pagelaran ini berakhir dengan sempurna, seperti yang kuharapkan.

Minggu, 14 November 2010

Penantian Terpanjang

Mataku menerawang menatap langit langit kamar ku. Kamar yang luas dengan berbagai pernik klasik kesukaanku. Kamar yang tidak hanya indah tapi juga wangi. Sayang semua berasa tak berarti karna sepi lebih merajai ketimbang segala keindahan yang ada.

Sepi yang kini menjadi ketakutan dalam hidupku. Yang kini menjadi sangat aku benci, ingin ku enyahkan tapi tak bisa.

**

usiaku telah melewati angka 40 tahun tapi aku masih sendiri . Tak ada anak anak yang menyambutku pulang dari kantor. Tak ada suami yang bisa ku peluk saat dingin menyekap ku.

Baru kini ku sadari kesempurnaan memang tak pernah ada, kesempurnaan hanyalah batas mimpi yang tak sampai pada kenyataan.

Ketika usiaku menginjak 25 tahun aku mencari lelaki yang tampan, umurnya tidak terpaut jauh dariku tapi karirnya lebih cemerlang dariku, otaknya lebih pintar dan tentu hartanya jauh lebih besar.
Ternyata orang seperti itu sebagian besar orang yang kaku, tak punya banyak waktu dan kurang romantis.

Lalu ketika usia ku mulai 30 tahun ku tetapkan target yang berbeda lelaki yang tentunya lebih tua dariku, punya pekerjaan tetap dan dari keluarga baik baik lalu bersifat kebapakan.
Ternyata tak mudah pula menemukannya karna sebagian besar orang seperti itu  sudah beristri.

Merebut suami orang? Upts.. Maaf itu bukan pilihan yang baik menurutku.

Ketika mencapai usia 35 th aku makin kelimpungan menentukan jodoh ku kelak. Ku cari lelaki yang mapan dan perhatian dan tentunya yang masih single. Itu syarat mutlak Karna aku juga single. Tapi banyak lelaki yang mengiraku telah bersuami. Dan tentunya mereka tak melirik ku. Mungkin keriput keriput diwajahku telah terlihat.

Dan saat usiaku kini telah 40 th. Aku merasa tak butuh syarat lagi mencari suami. Yang terpenting adalah ia mencintaiku dan dapat menghidupiku. Itu saja. Tak peduli muda atau tua. Tak peduli perjaka atau duda. Ternyata tak jua kutemukan.

Sepertinya Tuhan mengujiku karna aku terlalu banyak memilih. Terlalu menuntut kesempurnaan, tanpa menyadari. Aku pun tak sempurna.
Namun kini yang menjadi penyesalan terdalam bagiku adalah tentang anak. Mungkinkah aku masih di anugerahi buah hati ketika bersuami nanti??

**

Air mata yang kembali menetes malam ini, doa doa telah terbang menembus langit tapi tak juga aku merasa tenang.
Bayangan tentang hari tua yang sendiri, lalu hidup di panti jompo.
Oh Tuhan.. maafkan aku.

Malaikat Merindu Pelukan

Aku berjalan tertatih menyusuri jalan menuju rumahku. Sebuah gang kecil yang kumuh. Dari kejauhan aku melihat seorang gadis kecil berusia tiga tahunan duduk di samping tong sampah. Semakin dekat, kulihat ada kilatan cahaya dimatanya, wajahnya ayu, bersih. Tapi kenapa ia disini hatiku bertanya tanya.

"Ma.." ucap sigadis ayu tersebut ketika aku melewatinya.
Aku tekesima mendengarnya memanggil ku mama.
Aku membalikkan badan, ku hampiri anak tersebut. "Kamu siapa?kenapa disini malam malam?" ucap ku perlahan.
...
Dia diam tak menjawab, matanya menatap mataku.
"baiklah ayo ikut aku" aku menggendong gadis itu menuju kerumah.

**

Disofa usang kududukkan ia, kuperhatikan sepasang sayap mainan yang ia kenakan..

"Dimana rumahmu nak" ku sodorkan segelas air putih.

Dia hanya menggeleng.

"Baiklah, sekarang kamu tidur besok kita cari rumahmu" ku pegang kedua sayap mainan itu untuk dilepas. Tapi merekat kuat.

"Ma, ini bukan mainan" ucapnya perlahan.

Ku tatap wajahnya, sinar terang terpancar disana. Aku duduk disampingnya.

"Ma,aku malaikat yang diutus Tuhan untuk menitis kedalam janin yg mama kandung, aku janin yang dulu mama tidak kehendaki" ia terdiam sejenak.
"Sewaktu aku akan masuk dalam perut mama, kulihat mama sedang merintih sakit diruang dukun itu lagi. Dan ku saksikan  ragaku berlumur darah didalam baskom" ia berkata tanpa ekspresi.

Aku diam air mataku meleleh, ku ingat baru saja aku menggugurkan kandungan ku di rumah seorang dukun langgananku.
Aku hanya seorang pelacur, sering kali aku hamil dan sering pula kugugurkan. Aku tak mungkin bisa mendidik anak. Aku hanya pelacur jalang. Maka ku putuskan aku tak mau melahirkan anak.

"Ma, aku rindu pelukan. Tiga tahun aku mencoba pulang dan mama masih menolak ku" ucap nya perlahan.
ada harapan dimatanya yg mulai memudar.

Kali ini airmataku menetes, baru kali ini aku merasa menyesal telah menggugurkan kandunganku.
Ku peluk tubuh kecilnya. Tak berapa lama ku rasa ada yang aneh, ku buka mata dan ku dapati hanya ada sepasang sayap yang ku dekap erat.
Malaikat kecil itu telah pergi. Aku kembali tersedu di sofa usang rumah ku.

Kamis, 11 November 2010

Ajari Aku Melupakannya

Mencintainya adalah hal terindah yang pernah aku rasakan. Anugerah Tuhan yang singgah kedalam hati kemudian menyebarkan wangi disana. Harum yang terus ke kecup hingga saat ini.
Mencintainya adalah pagi yang memberi harapan bagi mentari untuk bersinar lagi. Seperti wadah menuangkan rasa, meluapkan rindu dan menghadirkan tawa dalam hidupku. Selalu ada semangat yang membuat ku terpacu untuk melakukan apapun.
Mencintainya adalah menemukan hati serupa pelangi. Indah. Menyendiri dalam pagelaran langit seusai hujan. Ia hadir tepat disaat air mata ku mereda ketika aku kehilangan cinta. Ia mewarnai hatiku, cerah.
Dia adalah seseorang yang mampu menyentuh hatiku hingga sudut terdalam,  yang merangkaikan tawa diantara kepingan luka yang aku punya.

**

Lima tahun berlalu, aku masih saja mencintainya, masih membingkai indah hatinya berdampingan dengan hatiku. Aku masih mencium aroma rindu yang biasa ia tebarkan kala lama tak berjumpa denganku. Dan kenangan tentang dirinya seolah adalah film favorite yang terus kuputar sesukaku, kapanpun dimanapun ketika aku mulai merindukannya.  
Tahun ini adalah tahun tersulit bagiku. Usiaku menginjak 30 tahun. Usia yang cukup matang bagiku untuk menjalani suatu pernikahan. Usia dimana kedua orang tuaku mendambakan bayi mungil terlahir dari rahimku, yang kelak akan mereka panggil dengan “cucuku”. Harapan yang mereka tumpukan padaku sejak lima tahun lalu. Ya.. lima tahun yang lalu sebuah pernikahan telah terencana dengan baik. Semua persiapan hampir mencapai 80% . Hari itu, ketika Ia mengambil cincin pesanan kami, sebuah peluru menembus dadanya. Darah mengalir pekat membasahi kemeja putih yang ia kenakan. Perampokan terjadi di toko itu. Sepasang cincin berdarah yang kembali padaku. Sementara ia pergi melayang meninggalkanku bersama kenangan. Kenangan termanis yang kukecap sepanjang kehidupanku.
Sejak saat itu, hatiku terasa mati untuk mencintai orang lain. Hanya ada dia dengan segala rupa yang menjelma, hingga di mataku ia nampak sempurna. Sejak kepergiaanya aku seperti terhenti dari detakan waktu. seperti hidup ditahun-tahun yang telah berlalu. Tak mengalami perubahan.
Sejak saat itu, cintaku  hanyalah khayalan, dan kepingan kepingan rindu terus tanggal dari kelopak hati yang tak bertuan. Aku tidak gila, tidak juga berhenti bersosialisasi. Aku tetap melanjutkan hidupku seperti biasa, kecuali mencinta. Cinta ku seperti air yang telah beku, tak lagi mampu mengalir.
Tapi kini aku harus menata kembali hidupku, masa depanku, duniaku dan belajar untuk berdiri tanpa bayangannya lagi. Mungkin bukan untuk hidupku bukan untuk hatiku dan bukan untuk duniaku ku lakukan semua ini. Untuk kedua orang tuaku yang semakin banyak keriput diusia senjanya, yang rambutnya mulai memutih.

**

Aku ingin melupakannya, berhenti mencintainya, dan percaya pada takdir Tuhan bahwa ia bukan jodoh yang Tuhan ijinkan untuk memilikiku. Namun dari mana aku harus memulai melupakkannya?
Apakah dari pertemuan ku pertama kali dengannya? Ah.. itu malah membangkitkan kenangan ku tentang betapa pesona dirinya terlalu kuat, betapa tatap matanya membuat ku jatuh cinta. Cinta yang sampai kini tak bisa ku lupakan.
Atau kumulai dari ketika ia mengucapkan cinta? Bisakah? Bukankah kenangan akan dewi semalan yang berikan padaku makin membuatku luruh. Luruh dalam romantisme yang kini hanya sebatas kenangan. Saat itu ia menjadikan ku dewi, dengan memberikan bunga ditiap sudut rumah ku, memberi ku puisi di tiap jam, memberiku hadiah hadiah yang ia kirimkan melalui jasa pengiriman dia tiap jam selama 1 malam penuh. Itu adalah hari paling bahagia untukku. Semua itu bukannya membuatku melupakannya, malah mengingatkanku batapa ingin kuhidupkan dirinya kembali lalu ku ulang hari itu.
Haruskah ku lupakan mulai dari hari kematiaanya? Kematiannya adalah pengorbanan, adalah bukti betapa cinta yang ia miliki ia tukar dengan nyawanya. Itu adalah bukti cinta terdalam untukku. Sanggupkah aku melupakannya?
Bagaimana aku melupakanya sementara aku tak memiliki benci yang bisa kujadikan kendaraan untuk meninggalkannya. Sementara aku tak punya air mata yang terlahir karenanya yang bisa ku kukenakan untuk menenggelamkan kenangan bersamanya.

**

Ia hanyalah pelangi bagiku, hadir seusai hujan dan kembali pergi kala matahari talah terang. Ia hanyalah malaikat yang di minta Tuhan melukisnya senyum terbaikku bagi kehidupan. Ia adalah kenyataan yang melingkupi hati ku dengan cinta lalu pergi meninggalkanku dalam cinta pula.

Rabu, 10 November 2010

Ambillah Anakku dari Rahimku Tuhan..


Anakku…
Dalam sunyi kuhantarkan doa untuk mu, malaikat yang kini menghuni rahim di perutku. Seribu ungkapan tentang sayang dan harapan untuk menimangmu, agar hadirmu melukiskan tawa di bibirku, mengukir bangga di hatiku. Seperti pelangi yang mengadakan pagelaran di langit hati. Indah. Bagai  matahari yang mengusung cahaya memeluk kegelapan.
Untukmu ku mohonkan doa tertinggi, doa terbaik yang aku mampu ucapkan, agar hidupmu selalu dalam lindungan Tuhan.

Namun…
Selayaknya bukan sekarang kau hadir, kala belum jelas kutata hariku untuk menyambutmu, belum ku beli bahagia yang akan menimang hidupmu nanti. Dan ketika cintaku terpatah patah entah dimana, aku hanya memiliki kehampaan yang sia sia.
Bukan kini ketika aku masih butuh kesendirian untuk mengobati luka luka yang berceceran. Luka yang masih basah oleh air mata, oleh kecewa dan keputusasaan. Bukan kini seharusnya kau datang menyapa kehidupan ku, aku belum bisa menyeka air mata atas luka yang terus mengalirkan darah dihatiku.

Anakku…
Dunia ini hanyalah sebatas tempat singgah untuk mu, kala kau menuju tempat yang kekal nanti, namun ketika kau singgah, aku tak ingin kau berada dalam perih yang aku bawa. Perih yang akan membayangi sepanjang usia mu.
Kasih sayang ku teramat besar pada mu, namun aku tahu Tuhan lebih mengasihimu, Ia adalah muara kasih yang tak pernah surut, kembalilah anakku, kembali pada-Nya yang menjanjikan terang disampingnya. kembali lah pada-Nya yang melingkupi hatimu dengan kasih-Nya.

Lihatlah hidupku sekarang, betapa sulitnya ku angakat tanganku untuk menyeka air mata, mampukah aku menggendongmu kelak? Semua jemariku seakan lumpuh untuk melakukan apapun.
Lihatlah hatiku.. tak pernah tertulis nama ayah yang menjadi ayah bagimu kini, ia pahit yang terus membayangiku hingga kini, ia adalah perih yang membuat lukaku kian menganga. Ia adalah angin yang meniup lilin lilin di kehidupanku. Hadirnya membuat hidupku terasa gelap gulita.
Lihatlah masa depan ku. Masa depan??? Bahkan aku sendiri ragu untuk menyebutnya ada untukku setelah hari itu.

Anakku…
Dulu aku mempunyai mimpi yang indah tentang kehadiranmu, dimana aku merindukan tangisan manja diri bibir kecilmu, lalu seorang yang aku cintai mengusap perutku dan berkata “kelak anak kita lahir, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia” dan aku seperti terbawa terbang oleh kata-katanya. Dialah yang kuharapkan menjadi seseorang yang kelak kau sebut dengan “ayah”.
Lalu aku dan dan ayah mu menyulamkan pelangi kehidupan untukmu, dan ketika kau terlahir kau lihat betapa indahnya dunia yang dipenuhi dengan warna warni cinta. Ketika kau beranjak dewasa akan kau katakana padaku tentang betapa bahagianya dirimu memilikiku sebagai ibumu.
Kini semua impian itu memburam, menjadi abu yang terbakar oleh keputusasaan. Tak ada lagi harapan tentang seorang yang akan mengelus perutku, tak ada lagi pelangi yang akan mengindahkanmu. Seorang yang menghancurkan semuanya adalah orang yang kelak kau sebut dia dengan “ayah”. Rasanya tak rela ku sandingkan diriku dengan dirinya sebagai orang tuamu. Bahkan kini ia pun telah mati ku tikam dengan belati. Akulah pembunuh ayah mu, akulah yang membuatmu yatim sebelum enggkau terlahir. Begitu banyak kesalahanku. Hidupku berlumur dosa yang teramat. Tangan ini tak pantas menimang tubuh mungilmu, lalu membelai rambutmu.. Maafkan aku.

Dulu hati ku tidak seperti ini, hatiku menyerupai taman bunga yang dipenuhi bunga yang bermekaran. Seperti langit yang berhiaskan bintang kala malam tiba. Penuh cinta, harapan, dan kebahagiaan.
Dulu aku tak pernah merasa kesepepian seperti hari ini, selalu ada malaikat yang menangkupkan cinta dan menemaniku kemanapun dengan lekat bayangnya. Ia selalu ada. Di hariku, di hatiku, dimimpiku, bahkan di tiap hela nafasku. Kini kehadirannya tergantikan oleh kelam yang tak berujung terang.
Aku kini tak lagi memiliki keberanian untuk menemuinya, aku tak berani menyapanya. Ku tinggalkan ia jauh dari hidupku, agar ia tak mereguk kecewa seperti diriku.

Anakku..
Percayalah, ketika seluruh benci aku kumpulkan untuk mengubur ayah mu, tak sedikitpun rasa itu tercecer untukmu. Hanya kasih sayang yang aku berikan padamu. namun semua tak akan cukup membuatmu bahagia.
Dengarlah diluar ketika orang-orang mencibirku tentang seorang wanita yang hamil karna diperkosa.
Dengarlah ketika nanti engkau berjalan mereka akan berbisik samar tentang anak haram, betapa semua itu menyakiti hatiku, bahkan lebih sakit dari luka ketika ayahmu memperkosa ku.
Anakku...
Pulanglah, rindukanlah pangkuan Tuhan yang selama ini membelai lembut rambutmu. Sampaikanlah pada-Nya kelak aku akan memintamu hadir lagi dalam rahimku kala luka ku telah sembuh. Sampaikanlah pada-Nya bahwa diriku membutuhkan lingkupan tangannya untuk menyembuhkan sakit ini.
Anakku.. lihatlah air mata ini, yang mengalir dari mataku. Semua karna ketidak relaan ku mengatakan semua ini padamu.

Anakku...
Bila nanti engkau telah memahami gejolak yang terus ada dalam hatiku, resah yang terus bergelayut dipikirku, maka kecuplah hatiku, dan pergilah dengan keihklasanmu. Pergilah dengan sejuta kepercaan bahwa aku tidak mencapakkan mu, melainkan melindungi mu. Pergilah anakku...

Senin, 08 November 2010

KUNAMAI IA RINDU

Serupa jingga senja dimataku
Sendu memendam bayangmu
menapak jejak kenangan

Hanya ada kamu..
Menyeruak jauh dalam kalbu

Kunamai ia rindu
Yang mengalir gemericik ditiap pikirku..

Kunamai ia rindu
Yang mekar ditaman hati
Lebih wangi ketimbang melati..

Kunamai ia rindu
Yang air mataku menjadi embun penyejuk
Di tiap kelopaknya...

Rabu, 03 November 2010

TAKDIR TUHAN

Ditangan-Mu Tuhan kau ukir hatiku

Kau letakkan perih agar aku memohon...

Kau letakkan sedih agar aku merenung...

Lalu Kau beri aku tawa agar aku bersyukur...

Kau tinggalkan tanya tentang mengapa  dan kenapa
agar aku senantiasa dekat dengan-Mu
mengurai apa yang tak ku tahu hanya kepada-Mu

Di tangan-Mu Tuhan ku letakkan seluruh hidupku

sinopsis

“Tuhan… aku hanya ingin mengadu tentang kerisauanku, bukan memohon Kau ubah takdirku.
Tuhan… aku percaya semua ketentuan-Mu adalah jalan terbaik untukku, dan aku tak akan pernah berhenti bersyukur atas apa yang telah Engkau tetapkan sebagai takdirku.
Biarkan aku mengadu hanya kepadaMu.… Biarkan air mata ini tertumpah hanya dihadapan-Mu.”
***
            Tria baru berusia 19 tahun ketika Dokter menvonisnya dengan penyakit hepatitis B. Semua berawal dari diadakan pemeriksaan darah di kampusnya. Tak ada tanda-tanda sebelumnya. Tak nampak gejala-gejala atau hal aneh pada dirinya. Hingga di suatu sore, Dokter memberi tahu hasil pemeriksaan darah yang dilakukan  seminggu sebelumnya.
            Sungguh ini merupakan tamparan terdasyat dalam hidup Tria. Bagai tersambar petir ratusan kali dan ia dihidupkan kembali. Hingga sisa-sisa pedih dan perih masih nyata dirasakannya. Namun apa yang dialaminya tak membuatnya putus asa. Ia selalu mencoba tegar. Meskipun terkadang ia tak mampu menahan kelopaknya untuk terjatuh ketika angin menerpanya.
Bertahan diantara amukan badai memang tak mudah
Tapi berlindung di tangan Tuhan
membuat segalanya menjadi mudah

            Apa yang menimpanya membuat Tria belajar banyak hal. Tentang hidup dan rasa terimakasih... tentang cinta dan ketulusan... tentang kasih sayang dan pengorbanan. Ia percaya bahwa ketika Tuhan telah berkehendak atas takdir manusia, maka itulah sebaik baiknya takdir kehidupan yang harus ia jalani. Bahwa ketikaTuhan menguji umat-Nya maka itulah bukti kasih Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Peringatan bahwa kehidupan manusia semua akan terjadi bila Dia berkehendak.
Tuhan adalah takdir
Kehendak manusia hanyalah doa
Dan Tuhan selelu menyalakan harapan
Untuk jiwa-jiwa yang percaya akan keajaiban-Nya
Untuk jiwa-jiwa yang percaya akan keajaiban-Nya