Entri Populer

Minggu, 09 Januari 2011

Jalan yang Salah untuk Kembali

"Ran, mau kah kau menikah denganku?" ucap Zeta malam itu sambil menggenggam erat tanganku.
Aku terdiam merasakan detak jantungku yang tak beraturan merasakan deguban deguban yang meletup di dada.
Baru saja aku ingin menjawab lamaran Zeta, dia telah mengatupkan dua jarinya di bibirku.Aku terdiam.

"Rana, sebelum kau menjawab pertanyaanku aku ingin kau mengetahui semua ini." terlihat kesedihan di mata Zeta kala mengucap itu. Kesedihan yang tak pernah ku lihat sebelum ini.
"Pernikahan adalah sunah Rosul, dan sebelum aku kembali pada dekapan Tuhan aku ingin menjalankan sunah-Nya. Agar ketika aku kembali pada-Nya aku telah lengkap sebagai seorang laki-laki" ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

"Dua minggu lagi aku akan pergi, menjalankan amanah sebagai umat muslim, membela agamaku melindungi umat muslim" matanya berapi-api ketika mengucap semua itu, tampak semangat yang begitu tinggi. Ya semangat yang menghilangkan raut kesedihan itu dari wajahnya.
Aku diam, mendengarkannya berbicara. Sementara itu, pikiranku terus melayang mencoba menerka jalan pikirannya tapi otak ku seperti buntu tak bisa menangkap apa yang akan ia lakukan. Menikah, sunah, pergi. Entahlah aku tak tahu maksudnya.

"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, jauh sebelum aku memiliki keinginan untuk melakukan niat ku ini. Ku harap kau bisa memberi ku jawaban. Pikirkan semua baik baik dan abaikan perasaanku" Zeta mengucap itu dengan tenang, setenang raut mukanya saat aku memandangnya.
Mungkin, hatinya tidak berdebar-debar seperti ku.

Aku diam mencoba mencerna apa yg ia katakan. Mencoba memahami jawaban hatiku atas tawarannya. Dan sepertinya Zeta memahami keraguanku, kebingunganku atas apa  yang ia katakan.

”Rana aku ingin menikahimu karna aku mencintaimu, namun bagiku cinta didunia bukanlah cinta yang kekal. Rana, aku ingin menikahimu namun, beberapa hari usai pernikahan kita aku akan meninggalkan mu, aku akan menjalankan misi kemanusiaan membela kaum muslim. Aku tidak yakin bisa kembali lagi atau tidak setelah misi ini. Namun, jika aku memang tidak akan pernah kembali lagi aku ikhlas. Kelak aku akan menantimu di pintu surga.” ucap Zeta mencoba menjawab keresahanku.

Aku mengerti, aku mengerti apa yang akan ia lakukan usai menikahiku. Hatiku bertanya apakah aku bener-benar bisa kehilangan dia padahal kami baru menikah? Atau ku tolak saja lamaran ini? tapi aku mencintainya. Zeta adalah lelaki yang meluruh kan hatiku, sikapnya, agamanya dan keteguhan hatinya untuk melakukan kebenaran. Akankah ada lelaki yang seperti Zeta yang akan melamarku lagi jika aku menolak lamaran Zeta?
Beberapa keraguan berkecamuk di pikiranku.

***

Setelah mencoba berbicara dan meminta pertimbangan kedua orang tuaku, mereka mengijinkan aku menerima lamaran itu. Orang tuaku mengatakan bahwa Zeta akan melakukan tugas yang mulia, aku harus mendukungnya. Suami seperti itulah yang kelak membawa istrinya ke surga. Begitu nasehat kedua orang tuaku.

”Zeta, aku mau menikah denganmu. Apapun yang akan terjadi setelah kita menikah aku yakin ini sudah jalan Tuhan untuk kita.” ucapku pada Zeta. Kulihat pancaran kebahagiaan dimatanya kala aku menerima lamarannya dan mengatakan siap untuk menjadi istrinya.

Lusa aku menikah, tapi entah mengapa aku tidak bahagia dengan semua ini. Bayang kesedihan selalu menghantuiku. Aku ingin menghentikan waktu saat ini juga tak ingin semua berjalan aku menikah dan dia meninggalkanku. Ah,, sudahlah semua tak mungkin berubah. Waktu terus berjalan dan akan melakuakan eksekusinya sesaat lagi.

**

Pernikahan yang amat sederhana, dihadiri oleh penghulu, keluargaku dan keluarga Zeta serta beberapa sahabat kami. Semua berlanngsung dengan lancar dan akhirnya kudengar kata ”syah” dari ruangan ini. ah,, lega akhirnya aku resmi menjadi isrti Zeta.
Malam pertama, kulihat Zeta hanya duduk termenung di dekat jendela. Pandangan matanya tampak kosong. Ia sama sekali tidak menyentuhku, bahkan mendekatiku pun tidak.

**

Maaf kan aku Rana, bukan berarti aku tidak mencintaimu jika saat ini aku tidak melakukan tugasku sebagai seorang laki-laki di malam pernikahan kita. Aku mencintaimu, engkau adalah wanita kedua yang paling aku cintai setelah ibu ku.
Maaf kan aku Rana, bukan berarti aku tak mencintaimu jika aku mengikhaskanmu sebagai janda usai pernikahan kita.
Kerena kau mencintaimu, aku ingin kelak engkau tetap menjadi gadis yang cantik yang akan menemukan lagi suami yang baik bagimu dan menjaga mu di sepanjang usiamu.
 Karena aku mencintaimu aku memilihmu untuk ku nikahi. Menjadi istri yang syah dimata Tuhan ku.

**

”Mas sebenarnya kamu mau pergi kemana? Aku mengijinkan dan mengikhlaskan semua yang akan kau lakukan, namun apakah tak berniat kau memberi tahuku kemana kau akan pergi?”
Tanyaku pagi itu sebelum kepergian Zeta meninggalkanku.

”Rana, istriku, bukan berati aku tak berkata jujur padamu. Aku hanya ingin kamu tak menghawatirkanku jika nanti kau mendengar tentang tempat yang aku tuju. Aku tak ingin kau mencemaskanku melihat keadaan dimana aku akan menuju, anggaplah aku akan pergi ketempat yang benar, percayalah bahwa Tuhan akan menuntunku menuju tempat yang baik.” Zeta mencoba menjelaskan mengapa ia tak mengatakan padaku tujuan kepergiannya.

”Mas, aku akan selalu mendoakanmu, akan selalu meminta pada Tuhan untuk melindungimu. Semoga kita dipertemukan kembali.” air mataku menetes. Ternyata begitu berat melepas seseorang yang dicintai. Meskipun untuk melakukan suatu hal yang benar.

**
Tiga bulan tak ada kabar apapun dari suamiku. Tapi aku percaya dia masih hidup dan melakukan segalanya dengan baik.
Tapi entah mengapa hari ini aku diliputi kecemasan ketika melihat berita di TV tentang perang Pelestina vs Israel. Apakah mungkin suamiku ke Gaza? Misi kemanusiaan. Mungkinkah?
Hatiku kian diliputi ketegangan dan kecemasan yang luar biasa ketika seluruh berita menayangkan keadaan Palestana yang kian mengkhawatirkan. Mungkinkah? Tuhan aku berharap engkau melindungi suamiku dari segala bahaya yang mengancamnya.

Beberapa bulan berlalu, masih saja kekejaman Israel atas Palestina menjadi berita. Semakin banyak relawan yang terjun ke Gaza melakukan misi kemanusiaan. Hatiku pun tergerak untuk kesana, menyusul suamiku dan ikut berjuang bersamanya. Kuputuskan esok aku akan mendaftar sebagai relawan ke Gaza. Tekad ku sudah bulat.

***
Pagi buta, pintu rumahku diketuk. Saat ku buka tampak beberapa polisi didepan pintu. Belum sempat ku persilahkan masuk, mereka telah mengatakan bahwa suamiku AHMAD NUR ZETA merupakan salah satu tersangka pelaku pengeboman di Kuningan.
Gelap. Dan aku tak bisa merasakan apa-apa lagi.


Kamis, 06 Januari 2011

Rahasia Kematian

Din.. Din.. Diiin.. Sebuah mobil hampir menabrak diriku tapi aku diam saja. Kudengar ia lewat dan memakiku. Kuacuhkan. Bagiku kini hidup hanyalah sepenggal kisah, aku tak peduli tak juga mau tahu akir dari kisah hidupku. Bila bahagia itu merupakan bingkisan di ujung ajal, bila menyedihkan, ku anggap itu hanya sebagian tawa yg ku tunda dan ku ganti dengan air mata.
***
Pagi itu aku melihat guratan merah dikening Reno. Air mataku menetes.. Aku tau ajal kini mengintai Reno, seseorang yang amat ku kasihi.
***
Aku mengalami kelainan pada masa kehamilan dirahim ibuku, ibu mengandungku selama 20 bulan. Dan mungkin itulah sebabnya kini aku memiliki kelainan memandang. Aku bisa melihat apa yang akan terjadi pada seseorang ketika aku melihatnya.
Orang akan dengan segera meninggal ketika terdapat garis merah dikening nya.
Ketika ketika hidung menghembuskan nafas hitam maka ia akan meninggal karna kecelakaan.
Lalu ketika matanya berwarna merah ia akan  meninggal karna sakit parah.
Itulah tanda tanda kematian yang dapat kulihat. Aku yakin bahwa diantara kalian tak ada yang bisa melihatnya, tapi percayalah setiap manusia memiliki tanda tanda itu menjelang kematiannya.
***
Pagi itu ku lihat hembusan asap hitam di hidung Ibu. Aku cemas. Ku tahan Ibu semampu ku untuk tidak keluar rumah. Aku memang tak bisa mengatakan pada ibu apa yang akan terjadi padanya. Aku menangis, dan ku yakin ibu tak akan tega meninggalkanku dalam kondisi seperti ini. Benar. Ibu tidak jadi pergi ke pasar. Ia menemaniku duduk di teras rumah. Tanpa ku sadari ketika aku berjalan masuk hendak mengambilkan ibu minum, sebuah bus menabrak rumah ku, dan ibu, ia meninggal.
Begitu pula dengan kematian kakak ku,ayahku, semua tak mampu ku cegah.
Tahukah kalian bagaimana perasaan dan sakitnya hati kalian jika bisa melihat tanda kematian dan tak bisa menyelamatkan orang yang kalian cintai? Ya.. Rasanya seperti pembunuh.
***
Aku berlari menghampiri Reno kukatakan sesuatu akan terjadi padanya hari ini. Aku mengatakan bahwa ada tanda kematian dikeningnya. Dan saat itu Reno tak pernah mempercayaiku, ia hanya mengganggapku bergurau.
Lalu aku berdoa, ku katakan pada Tuhan jika aku rela menukar apa pun yang aku miliki demi kehidupan Reno. Sepertinya Tuhan mengabulkannya. Kulihat perlahan garis merah dikening Reno memudar.
Aku lalu meloncat dan berteriak karna amat bahagia, tapi tiba tiba suaraku tercekat, mendadak aku jadi bisu.
***
Beberapa minggu setelah Reno tahu aku bisu permanent ia meninggalkan ku. aku tak bisa mengeluarkan suara apapun. Sepertinya Tuhan mengambil suaraku untuk hidup Reno yang ku mohonkan.
***
Sejak kematian keluargaku dan aku tak bisa mencegah semuanya. Meskipun aku telah memohon pada Tuhan untuk mengambil semua yang aku miliki atau bahkan menukar dengan nyawaku, dan Tuhan tetap tak mengabulkan doaku.
Kuputuskan ku butakan saja mataku, dengan meneteskan lem perekat di kedua mataku.
Aku bahagia, meskipun aku tak mampu melihat tanda kematianku sendiri, tapi aku tak lagi dipenuhi rasa bersalah karna tak bisa menyelamatkan orang orang yang ku kasih. Biarlah kematian menjadi rahasia Tuhan selamanya.

Tuhan Aku Marah..

Tuhan, aku marah..
Melihat keacuhan yang kian meraja, melihat keangkuhan yang jadi buaian tiap insan. Inikah ketidakpedulian? Yang tak lagi pedulikan kasih sayang?
Lihat di sana, di sudut senja dengan semburat jingga. Kanak-kanak mengais nasi basi dari gundukan, lalu di sana suara pengamen jalanan yang menggelegar, lagu sunyi untuk hati yang mendengar kesedihan..
Lalu ketika matahari telah sembunyi mengantarkan bulan yang menggantikan diri, di bawah langit tempat-Mu berdiri orang orang mendekap kaki tanpa selimut melingkupi, desah angin menyingkap sampai ke pori, berlindung di bawah tiang jembatan.
Siapa yang peduli??
Tuhan, aku marah..
Ketika mendengar mereka bicara tentang belas kasih, ketika mereka menyanyikan senandung bantuan yang menumbuhkan harapan, yang ternyata hanya kiasan dalam bibir tajamnya..
Lihat di sana hamburan uang tanpa makna, keliling dunia dalam bencana.
Lalu di sudut lainnya foya-foya menjadi raja, semua terbuang cuma-cuma.
Dan lihatlah tangan mereka yang terkunci saat melihat derita namun terbuka kala pesta
Adilkah Tuhan??
Kami tak pernah meminta terlahir dari rahim siapa, kami tak pernah menuntut harus punya keluarga seperti apa. Miskin, kaya? Semua takkan beda kalau kita peduli sesama..
Tuhan aku marah.. Bukan kepada-Mu tapi kepadanya yang terlahir dengan hati seperti besi
kepadanya yang nuraninya terbakar api ambisi yang hidupnya saling mengejar kekayaan. Yang tak punya kepedulian.
Tuhan dengarkan amarahku sampaikan pada mereka agar sedikit saja membuka jendela, memperhatikan luka di sekitarnya.

Pelangi di Matamu

Kulangkahkan kaki ku ditengah hujan, kubiarkan derasnya air ini melunturkan sakitnya hati yang ku miliki.  Bahkan aku berharap petir menyambarku kali ini agar ia menjemputku untuk menemui Tuhan. Hidupku telah usai dipenuhi sejuta rasa bersalah dan kecewa.
Samar samar ku lihat sosok gadis kecil yang menunduk dibawah pohon dengan tubuh bergetar. Mungkin ia kedinginan. Aku mengacuhkannya, sepertinya hatiku lebih butuh pertolongan dari pada gadis itu.
***
Aku yang meninggalkan rumah karna hubunganku dengan Edo tak direstui kedua orang tuaku. Menurut mereka Edo seorang begajulan yang tak punya masa depan, namun cinta membutakanku, aku lebih memilih Edo dan meninggalkan kedua orang tuaku. Aku merasa sudah cukup dewasa untuk bisa menentukan hidupku, lagi pula aku sudah
bisa mencukupi hidupku sendiri. Angkuhnua sikapku kala itu.
***
Kini Edo yang aku cintai yang aku bela mati-matian menghianatiku. Aku merelakan janin dalan perutku, demi ketidak siapanya menghadapi pernikahan. Aku merelakan sebagian gajiku, karna ia belum diterima kerja. Segalanya aku relakan.
Awalnya aku membatalkan rencana makan malam dengan Edo karna  malam ini aku ada meeting. Tapi tiba tiba meeting dibatalkan karna direksi tak bisa hadir. Lalu kuputuskan untuk memberi Edo kejutan dengan datang tiba-tiba kekontrakannya dan mengajaknya makan malam. Namun yang kulihat saat aku membuka pintu adalah Edo bercinta dengan Didi. Lelaki yang ku kenal sebagai sahabatnya. Bagai ditampar petir  kala itu juga. Kubanting pintu dan meninggalkan mereka sekelebat kulihat mereka tergagap. Aku tak peduli aku terus berlari dengan air mata yang terus mengalir, sederas hujan yang mengguyur tubuhku.
***
Aku duduk di bangku taman ditemani dengan hujan yang masih deras mengguyur bumi. Tiba-tiba mata ku tertuju pada gadis kecil itu lagi. Kuusap air mataku, perlahan kuhampiri. Ternyata ia tidak kedinginan tapi menangis.
Akhirnya aku tahu, bahwa ia baru berusia 9 tahun ketika ayah kandungnya memperkosanya, dan di usia 11 tahun ia dijual oleh kedua orang tuanya ke seorang wanita yang ia panggil dengan ”mami”. Ia dipaksa harus melayani para lelaki
hidung belang. Lalu malam ini, ia mencoba berontak, ia menusuk lelaki yang akan menidurinya lalu melarikan diri. dan polisi kini pasti akan mencarinya.  Namun di tengah isak tangisnya aku merasakan kekuatan, kekuatan yang tidak aku miliki. Ketegarannya menghadapi hidup di usia yang masih dini.
Ia pun berkata bahwa kalaupun nanti polisi menemukannya ia akan pasrah. Baginya hidup dalam penjara jauh lebih baik dari pada dalam kubangan dosa.
Tiba-tiba air mataku meleleh lagi, aku merasa lemah dihadapan gadis ini, aku cengeng. Bagai mana mungkin aku memilih mati dan dijemput Tuhan hanya karena lelaki bejat meninggalkanku. Bukankah itu suatu keberuntungan?
Bagaimana mungkin aku memilih mati dan tidak kembali pada orang tuaku jika ternyata mereka menyayangiku. Bukankah mereka tidak pernah menjerumuskan ku?
Oh Tuhan aku malu pada diriku yang lemah, yang angkuh dan tak mau mengalah. Kini aku mengerti betapa hidup ini tak hanya butuh egoku, tapi juga cinta dari orang tua, Tuhan dan harapan untuk bisa kembali membangun hidup dengan puing-puing kesedihan untuk mencapai kebahagiaan.
Kugenggam erat jemari gadis kecil itu, kukatakan padanya bahwa akan ada pelangi seusai hujan, mari kita bangun pelangi dalam hidup kita usai hujan yang mengguyur kehidupan kita.
Aku mengajaknya kerumahku, kulihat ada bahagia di matanya, juga senyum manis di bibirnya.

Kurelakan Semua Karenamu

Tahukah kau Rio, betapa sakitnya aku harus menyembunyikan ini padamu? Betapa pedihnya mata ini saat harus menatapmu dan menyadari bahwa sesaat lagi aku tak bisa memandangmu, tak lagi bisa kulihat senyum manismu yang menawarkan berjuta kebahagiaan, tak lagi bisa kulihat tatapmu yang menyuguhkan sejuta cinta.
Tahukah kau Rio, betapa berat harus selalu tersenyum di hadapmu sementara air mata di sudut mataku tak terbendung lagi, saat ketegaranku mulai merapuh melawan penyakit ini. Betapa pahitnya harus merelakanmu.
***
”Rana, apakah belakangan ini kamu sering mimisan?” tanya dokter Feby kepadaku sore itu.
Aku mengangguk.Ya akhir-akhir ini aku memang sering mimisan secara tiba-tiba.
”Apakah kamu sering merasa pusing dan pingsan secara tiba-tiba?” tanya dr. Feby kembali.
Lagi –lagi aku mengangguk, sudah sebulan belakangan ini aku sering pingsan tiba-tiba aku pikir aku hanya kelelahan saja, jadi kondisi fisik ku menurun. Puncaknya tiga hari yang lalu aku mendadak pingsan saat mengantarkan Rio ke toko
buku. Ku ingat betapa paniknya Rio saat itu, ketika ia melihatku pingsan. Ia memaksaku periksa ke Rumah sakit. Kuturuti Rio untuk memastikan bahwa aku memang baik-baik saja.
”Rana, dengan berat saya harus mengatakan hasil pemeriksaan ini. Dari semua tes yang telah kamu lakukan, saya menyimpulkan bahwa kamu mengidap kanker darah stadium dua … … …” dr. Feby memberitahukan hasil tes yang aku lakukan tiga hari yang lalu, aku seperti tersambar petir kala itu, tubuh ku tiba-tiba lemas dan aku tak mampu lagi mendengarkan apa yang dr. Feby katakan padaku. Antara percaya dan tidak, seperti ingin segera terbangun dan menyadari semua hanya mimpi. Namun ini adalah kenyataan, kenyataan yang menampar hidupku dengan kencangnya.
Entah apa yang terjadi lagi setelah itu, entah apa yang dr. Feby ucapkan lagi padaku aku tak lagi ingin mendengar semuanya. Aku seperti tuli secara tiba-tiba karna kenyataan yang sama sekali tak pernah ku bayangkan.
***
”Rana, kamu nampak pucat kamu sakit?” tanya Rio
”Enggak ko sayang, aku hanya lelah saja memikirkan rencana pernikahan kita.” aku sedikit berbohong padanya.
Sebenarnya aku bukan pusing dengan rencana pernikahan yang akan kami lakukan, tapi aku pusing memikirkan bagaimana caranya membatalkan pernikahan ini tanpa dia harus tersakiti. Tanpa dia harus terlukai karena nya. Tanpa dia harus tahu sakit yang aku derita. Aku tahu Rio teramat mencintaiku, ia tak mungkin menerima begitu saja bila aku membatalkan pernikahan kami yang sudah siap sekitar 25%.
***
”Rana, sepertinya aku harus menunda rencana pernikahan kita, aku ditugaskan oleh kantor untuk mengerjakan proyek di Singapura dalam waktu 1 tahun. Kalau aku berhasik aku akan naik pangkat. Ini peluang baik untuk kita.” ucap Rio hari itu saat mengajakku makan malam.
”Satu tahun” ucapku perlahan.
”Apa kamu keberatan sayang? Menunda pernikahan kita? Kalau kamu keberatan aku akan menolak proyek ini dan melangsungkan pernikahan kita sesuai rencana” jawab Rio sembari menggenggam erat jemariku.
”Aku gak keberatan kok sayang, aku senang kalau akhirnya kamu bisa meraih mimpi yang selama ini kamu perjuangkan. Aku tidak akan menghalangimu. Aku akan menunggu mu.” ucapku. Entah aku harus senang atau bersedih kala mengucap itu, senang karna aku tak perlu mencari alasan untuk membatalkan pernikahan ini, atau sedih karna menyadari bahwa satu tahun lagi mungkin kau tak akan pernah menemukan aku lagi.
Sekilas ku lihat air mata di sudut mata Rio, ketika aku mencoba melihatnya dengan jelas, Rio buru-buru menghapusnya dan memberikan senyum termanis yang biasanya ia berikan untukku.
***
“Rin, tolong jagain Rana aku mau pergi ke Singapura beberapa waktu” aku meminta tolong Rino sahabatku untuk menjaga Rana.
“Ke Singapura? Untuk apa?” jawab Rino.
“Mungkin aku tak bisa bohong padamu. Beberapa hari yang lalu aku mendapati hasil medical chek-up Rana, ia terkena kanker darah, aku tahu ia tak punya biaya untuk pengobatannya,” kuhela nafasku perlahan.
“Beberapa hari yang lalu aku mendapat tawaran untuk menjual kedua mataku, ada pembeli di Singapura yang bersedia membelinya 150jt aku rasa itu cukup untuk Pengobatan Rana. Aku mengatakan padanya aku ada proyek kerja satu tahun. Aku hanya berharap waktu itu bisa membuatnya melupakan aku,” kurasakan air mataku menetes.
“Kamu gila Rio!! Kamu ga boleh melakukan ini” Rino berusaha mencegah ku.
“Maaf, tapi aku akan melakukan apapun untuk Rana. Tolong jaga dia, aku tahu kamu mencintainya sama seperti aku.”
***
Andai saat itu aku tak mengijin kan mu pergi, pasti aku masih bisa melihat senyummu untuk ku. Masih ku dengar suaramu memanggilku. Masih kurasakan hangatnya tubuhmu memeluk ku. Semua karna ku” ku ciumi jasad Rio yang hangus terpanggang api dari ledakan pesawat yang di naikinya saat akan pergi ke Singapura.

Senin, 03 Januari 2011

Biarkan Aku Gila

Ibu mengusap air mata yang perlahan  jatuh di pipiku, ini kesekian kalinya Ibu melihatku menangis. Tapi tak sedikitpun Ibu bertanya padaku mengapa aku menangis. Aku sendiri pun telah melupakan alasan yang membuat air mata ini
menciptakan aliran sungai di pipiku. Ku lihat sekilas di mata Ibu ada air mata yang menetes karenaku.
“Din, mengapa tak mau ke Rumah Sakit? Andai saja kamu mengerti harapan Ibu padamu nak..” ucap Ibu sambil memeluk tubuh ku.
Dan andai ibu juga mengerti apa yang kurasakan saat ini, mungkin Ibu akan tahu mengapa aku lebih memilih disini, tetap begini. Aku berbisik dalam hatiku.
Ku paksakan sebuah senyum termanisku untuk Ibu, agar ia berhenti meneteskan air matanya untukku, agar wajah ayunya tak tertutup oleh gurat gurat kesedihan. Aku tersenyum, kemudian mengajak Ibu tertawa melupakan kesedihan yang baru saja melingkupi kami.
***
Aku melihat seseorang menyuntikkan cairan padaku, tiba-tiba pandanganku mengabur dan hanya gelap yang bisa ku lihat. Dengan samar masih bisa ku dengar isak tangis Ibu di sampingku, aku merasakan tubuhku diangkat, entah akan dibawa kemana tapi aku mencurigai sesuatu.
Saat ku buka mata, ku lihat  Ibu dengan air mata yang masih menetes. Aku tersenyum pada Ibu, kupandangi wajah Ibu yang mirip dengan kekasihku Rana. Kutemukan tatapan mata penuh cinta, mirip tatapan Rana ketika menatap mataku.
Aku tersenyum lagi, tapi Ibu tetap menangis.
”Ibu jangan menangis” aku berkata padanya, ingin ku usap air mata itu dari pipinya, sama seperti yang selalu Ibu lakukan tiap kali aku menangis.
Saat akan kuangkat tanganku, kurasakan sesuatu menahannya, tanganku terikat pada sisi tempat tidur ini. Aku berteriak, meronta-ronta. Aku menangis sekencang –kencangnya, ku maki semua orang yang ada disini, tapi mereka tak mau menolongku untuk melepaskan ikatan ini dariku. Kurasakan Ibu memelukku, berusaha menenangkanku.
”Tenganglah nak, kini kau berada ditempat yang tepat, kau akan sembuh dan menyalakan lagi lentera kehidupan Ibu, kau anakku satu-satunya, Ibu tak mau kau terluka” suara ibu terdengar samar diantara isak tangisnya.
Kini aku sadar Ibu telah membawaku ke Rumah sakit, tempat dimana aku akan disembuhkan. Tempat dimana akan membangun lagi kenangan yang sejauh ini berusaha kulupakan, meski terkadang aku mengingatnya dan aku menangis kala itu.
***
Dear Dino,
Din, maafkan atas semua kesalahan ku kali ini, aku tahu semua ini akan meyakitimu, tapi aku percaya kau akan sanggup melewati semua ini tanpa ku, aku percaya kau akan kuat membangun mimpi –mimpimu tanpa ku.
Andai saja aku memiliki pilihan, aku pasti memilih untuk tetap bersamamu dan andai saja aku bisa memutar waktu akan ku putar saat Ayah belum meninggal dunia dan membatalkan perjodohanku dengan Ardi. Tapi kau tahu kan Din, aku tak sekuat itu untuk bisa melakukan perubahan yang kita harapkan.
Din, aku telah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Ayah, agar kelak ia merestui hubungan kita. Aku tak sanggup menata kehidupanku tanpa kamu. Berjanjilah padaku, jangan menangisi dan menyalahkan keputusanku, percayalah.. aku pasti bisa membujuk Ayah dan kita akan kekal abadi bersama nanti.
Yang selalu mencintaimu
Rana

Ku baca ulang surat Rana yang ia berikan pada Dino sebelum kematiaan nya. Masih ku ingat ekspresi Dino kala aku memberikan surat itu padanya, air matanya menetes deras, namun ia segera mengusapnya dan terawa tebahak-bahak sambil berkata ”aku tidak menangis Rana!!! Aku tidak menangis, lihatlah aku..” kemudian ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Saat ia sadar tak lagi kutemukan Dino putra ku, yang kudapati hanyalah Dino yang tiba-tiba menangis lalu tertawa terbahak-bahak. Dino selalu meronta tiap kali ku ajak ia kerumah sakit, ia selalu menolak dan mengamuk setiap kali dokter mencoba memeriksanya. Kini sudah satu tahun Dino berada dalam keterasingan hidupnya, dan aku sudah tak sanggup lagi membiarkan keadaannya.
***
Ibu, andai Ibu tahu aku tidak pernah gila, andai Ibu tahu semua yang kulakukan hanya untuk menutupi luka yang menganga dalam hatiku, semua yang ku lakukan hanya untuk melupakan bahwa sesuatu telah terjadi pada hidupku.
Dengan begini aku tak kan sadar bahwa Rana benar-benar telah pergi, aku bisa menganggapnya ada kapan pun aku mau, aku bisa mengajaknya bercengkerama meskipun saat itu yang Ibu lihat aku berbicara pada dinding. Ibu aku lebih nyaman dengan hal yang Ibu anggap gila ini, aku lebih tenang karna aku tak pernah merasa kehilangan Rana.
Biarkan aku tetap seperti ini Ibu, menikmati hidupku dengan kegilaan ini, menciptakan kembali Rana dengan kenangan yang aku miliki bersamanya.
Biarkan aku gila Ibu…
Kesembuhanku nanti hanya akan menjadi awal dari kegilaanku tanpa Rana, hanya
akan menjadi luka yang tak kunjung usai.
Biarkan aku gila Ibu…

Senin, 06 Desember 2010

cinta sejati

Pagi tadi Ibu menelpon ku bahwa kondisi Mbak Nina memburuk. Mbak Nina mengalami kecelakaan, ia terkena peluru nyasar saat pulang dari kantor kemarin sore, ada bentrok massa dengan polisi. Aku langsung berkemas dan meluncur pulang, karena memang kebetulan aku baru selesai ujian semester, jadi aku bisa di Semarang lama. Menjenguk Mbak Nina dan sekaligus berlibur menghantarkan pelukan pada ibu, rinduku padanya sudah memuncak.
***
Nduk kenalke, iki nak Aryo pacare Mbak’mu,”  Ucap Ibu mengenalkan aku pada seorang lelaki yang sedang duduk di kursi di samping pintu ICU tempat dimana Mbak ku dirawat.
“Dini,” ucapku sambil menjabat tangannya.
”Aryo,” balasnya perlahan, aku merasa ada getar kesedihan disuaranya.
”Mbak Nina Pripun keadaane Buk’e?” tanyaku pada ibuku, dan mengalihkan pandanganku dari Mas Aryo, entah kenapa tiba tiba ada getar aneh dalam hatiku ketika tanganku menyentuh tangannya tadi.
”Yo, ngono kuwi Nduk, durung ono perubahan,” jawab ibu dengan mata berkaca-kaca.
Aku melihat kesedihan yang teramat di wajah ibuku. Kembali kulirik wajah Mas Aryo, Tubuhnya tinngi, kulit putih hidung mancung wajahnya mirip Vino .G Bastian. Ia masih tertunduk lesu tanpa Ekspresi. Aku sering mendengar namanya dari Mbak Nina ketika menelponku, Mas Aryo adalah kekasih Mbak Nina sejak dua tahun lalu, mereka adalah rekan kerja di kantor. Dan bulan depan mereka berencana mengadakan pertunangan. Bisa kuingat bagaimana bahagianya Mbak Nina ketika Mas Aryo melamarnya. Ia bilang bahwa ia adalah dewi yang paling beruntung karna di pinang oleh lelaki seperti Mas Aryo, lelaki yang penyayang, sabar, romantis, berasal dari keluarga baik-baik dan tergolong orang yang kaya. Mas Aryo adalah anak dari Bupati Semarang. Bahkan aku sempat iri dengan keberuntungan yang diperoleh Mbak Nina itu, walaupun pada saat itu aku belum mengenal Mas Aryo, aku yakin Mas Aryo adalah pilihan tepat buat Mbakku, dia sosok lelaki yang sempurna. Sementara aku sudah satu tahun ini menjomblo sejak putus dari kekasihku Firman. Dan aku belum berniat mencari pengganti lagi, kesibukan kuliah membuatku bisa sedikit lupa akan kesendirianku.
***
Semenjak perkenalan itu, aku dan Mas Aryo kian akrab, kami sering menunggui Mbak Nina bersama-sama, sudah beberapa kali kulihat Mas Aryo mulai bisa tersenyum meskipun Mbak Nina belum sadar dari komanya. Senyum itu, keramahan itu, tatapannya. Tak bisa kupungkiri aku telah jatuh cinta padanya. Cinta yang tak seharusnya tumbuh. Cinta yang mekar di taman terlarang. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai kekasih dari kakak ku sendiri sementara kakak ku masih terbaring koma di Rumah Sakit. Aku berusaha menepiskan bayangan Mas Aryo dari banakku, berusaha menjejalkan kenyataan bahwa Mas Aryo itu milik Mbak Nina, aku tak boleh merebutnya. Mbak Nina akan segera sembuh, dan mereka akan bertunangan, aku gak moleh menyusup di antara mereka. Cinta Mas Aryo begitu dalam, tak mungkin berpaling padaku dalam waktu sesingkat ini. Perhatiannya padaku tak lebih dari karna aku adalah adik dari Mbak Nina.
***
Keadaan Mbak Nina membaik, meskipun belum sadar, tapi ia sudah mulai menggerakkan jemarinya. Kemarin saat aku membuka pintu kamar Mbak Nina kulihat Mas Aryo bercakap disamping tempat tidur Mbak Nina tentang pesanan cincin pertunangan yang mereka pesan, tentang betapa ia berharap Mbak Nina segera sadar dan bisa memeluknya kembali, tentang bagaimana dunianya terasa sepi tanpa tawa dari Mbak Nina, ah… tiba tiba air mataku menetes menyaksikan semua itu, cemburu atau rasa kesedihan karna melihat Mbak Nina? Ya keduanya  menyebabkan air mataku menetes, namun bisa kusadari perasaan cemburu itu jauh lebih dalam menusuk hatiku.
Mas Aryo mengajakku ke toko perhiasan mengambil  pesanan cincin mereka, seminggu lagi seharusnya pertunangan itu sadah berlangsung. Kulihat dua buah cincin manis dengan ukiran huruf  ”A” dan huruf ”N”  batapa indahnya. Tiba-tiba tanyan Mas Aryo menyentuh pipiku, ia menghapus air mata jang jatuh disana,
”Kenopo Din,” tanya mas Aryo?
”Sedih Mas, Mbak Nina durung sadar nganti saiki,” kilahku, padahal sungguh dalam hatiku aku cemburu, aku tak kuasa melihat cincin itu untuk Mbak Nina, bukan untukku. Mas Aryo memelukku, mengusap rambutku dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja, Mbak Nina pasti sembuh dan pertunangan itu, akan terjadi.
Tuhan mengapa kau anugerahkan
Cinta yang tak mungkin tuk bersama
Kau yang telah lama kucintai
Ada yang memiliki
Samar kudengar  lagu Ari Lasso di toko sebelah, airmataku menetes kian deras.
***
Terlihat dua orang, lelaki dan perempuan, menyekar makam,
”Besok kami akan menikah, kamu pasti bahagia melihatnya, sayang kamu tak bisa hadir, tapi kuharap kamu mendoakan agar pernikahan kami akan kekal dan bahagia selamanya, seperti mimpi kita dulu waktu masih kanak-kanak, kita akan melahirkan 2 anak yang semuanya laki-laki, baiklah, aku sekarang merubah semua itu, aku akan melahirkan 4 anak yang semuanya laki-laki, dua anakku dan dua lagi kuanggap sebagai anakmu. Kamu senang?”  kata wanita itu, sementara yang laki-laki menghapus air mata yang menetes dipipi yang wanita.
Mereka lalu meninggalkan makam itu, semua kembali sepi, bunga-bunga yang baru ditebar tertiup angin, menutupi nama yang tertulis di nisan.
DINI ARDINARI
LAHIR 20 SEPTEMBER 1987
MENINGGAL 23 JULI  2010
***
Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa ada kecocokan 70% ginjal ku dengan Mbak Nina, aku putuskan untuk menyumbangkan salah satu ginjalku untuknya. Selain aku tak ingin Mbak Nina meninggal dunia, karna aku sangat menyayangi Mbakku itu, juga karena aku tak mau melihat harapan dimata Mas Aryo padam. Biarpun seusainya
aku harus melihat pedih pertunangan mereka lalu pernikahan mereka. Biarlah nanti aku menutup mata saja, pura-pura tak pernah ada cinta. Kedua ginjal Mbak Nina rusak tertembus peluru itu. Seminngu setelah operasi keadaan mbak Nina membaik, dan aku mengalami anfal karna operasi tersebut.